Permen Fungsional Antiinflamasi dari Buah Parijoto dan Daun Cincau Hijau untuk Sariawan
Nama Anggota
: Mukhammad Ilham Maulana
Kelas
: XII.8
NIS
: 12806
Nama Ketua
: Muhammad Farrel Ardan
Kelas
: XII.8
NIS
: 12802
Kategori
: MIPA dan Teknik
Pembimbing
: Naelatuz Zuhroh, S.Si.
Tanggal Pengesahan
:
10-04-2026
Abstrak
:
Sariawan merupakan suatu inflamasi pada jaringan lunak di dalam oral yang lazim terjadi. Faktor penyebab sariawan, antara lain jamur, alergi makanan, kurang vitamin, stress ataupun tergigit. Jamur Candida albicans merupakan salah satu jamur penyebab terjadinya sariawan. Efek dari sariawan dapat menyebabkan para penderitanya tidak nafsu makan dan mulut terasa perih. Kebanyakan obat sariawan mengandung bahan berbahaya seperti policresulen dan steroid yang memiliki efek samping jika dibandingkan dengan bahan alam. Tanaman parijoto (Medinilla speciosa) merupakan salah satu tanaman yang banyak tumbuh di Kecamatan Dawe, Kota Kudus. Buah parijoto mengandung senyawa flavonoid, saponin, tannin, terpenoid, dan glikosida yang mempunyai aktivitas farmakologi, seperti antibakteri, antiinflamasi dan antifungi. Parijoto juga mengandung vitamin C yang dapat mempercepat proses penyembuhan sariawan. Tanaman cincau hijau (Cyclea barbata Miers) adalah tanaman yang banyak tumbuh di Indonesia dan dapat dimanfaatkan sebagai makanan tradisional kaya serat. Kandungan kimia aktif dalam daun cincau hijau berupa karbohidrat, alkaloid, polifenol, saponin, dan flavonoid yang memiliki aktivitas farmakologi sebagai antiinflamasi, antioksidan, dan antifungi. Salah satu bentuk pengaplikasian dari obat sariawan adalah medicated hard candy. Medicated hard candy yang mengandung buah parijoto dan daun cincau hijau merupakan inovasi dalam penelitian ini. Hard candy ini juga menjadi pengobatan yang lebih mudah diterima masyarakat dalam pengonsumsian obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas buah parijoto dan daun cincau hijau dalam bentuk medicated hard candy sebagai antiinflamasi dan antifungi untuk sariawan. Penelitian ini diawali dengan pembuatan ekstrak parijoto dan daun cincau hijau, kemudian dilakukan uji fitokimia untuk mengetahui senyawa metabolik dalam bahan alami tersebut. Uji antiinflamasi dilakukan menggunakan uv-vis spektrofotometri pada ekstrak yang telah di fraksinasi dengan ethanol 96% menggunakan metode penghambatan denaturasi protein secara kuantitatif dengan natrium diklofenak sebagai kontrol positif. Pembuatan hard candy dilakukan menggunakan variasi buah parijoto dan daun cincau hijau (0%:10%), (10%:20%), (30%:30%), (20%:10%), dan (10%:0%). Selanjutnya dilakukan uji stabilitas, uji organoleptik, uji dan uji kadar air, uji hedonik. Aktivitas antifungi dilakukan dengan uji daya hambat untuk menghitung zona bening yang terbentuk. Aktivitas antiinflamasi terbaik dimiliki oleh ekstrak buah parijoto yaitu dengan nilai IC50 sebesar 1,235 ppm. Formulasi hard candy terbaik diperoleh dengan perbandingan konsentrasi ekstrak parijoto dan daun cincau hijau (30%:30%). Dengan daya hambat sebesar 1,5 cm, memiliki nilai 5, nilai kadar air sebesar 0,15%, dan pada uji hedonik responden menyukai hard candy yang telah dibuat dengan nilai rata-rata paling kecil 3,4 dari skala 6. Pada uji stabilitas, menunjukkan bahwa formula F3 tetap stabil pada suhu sejuk dan suhu kamar.
Pratinjau Dokumen
Akses Dokumen Dibatasi
Untuk membaca isi lengkap dari Karya Tulis Ilmiah ini, silakan akses melalui komputer katalog yang tersedia di Perpustakaan MAN 2 Kudus.