1196 Hasil Pencarian
Aplikasi Rumus Trigonometri dalam Pembuatan Motif Batik Fractal
Penulis: Zula Uswatun K., M. Afif Fahriyanto
Telah dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara rumusan trigonometri dalam pembuatan motif batik, dan mengetahui proses pembuatan ornamen utama motif batik fractal trigonometri. Pembuatan ornamen utama motif batik fractal menggunakan perangkat lunak wolfram mathematica 7.0. Tahapan pembuatan ornamen utama dimulai dari penentuan rumusan utama, memasukkan fungsi-fungsi trigonometri dengan menggunakan perintah plot dan melakukan uji kesesuaian terhadap hasil plotting menggunakan perintah manipulate. Rumusan utama yang digunakan untuk menghasilkan motif adalah polarplot, densityplot dan contourplot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa grafik fungsi trigonometri berpotensi untuk dijadikan pembaruan dalam pembuatan motif batik baru. Tidak hanya motif batik baru yang dapat dibuat, tetapi motif batik tradisional juga dapat dibuat dengan menggunakan rumusan trigonometri seperti motif batik Kawung yang dapat dibuat dengan menggunakan rumusan polarplot.
Penggunaan Yoghurt dan Minyak Cengkeh Sebagai Obat Kumur Penghambat Pertumbuhan Jamur Candida albicans Pada Sariawan
Penulis: Zahra Risda Maulidya
Sariawan atau stomatitis aftosa merupakan gangguan kesehatan mulut yang umum terjadi dan dapat disebabkan oleh infeksi mikroorganisme seperti Candida albicans. Penggunaan obat kumur berbahan kimia dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan efek samping, sehingga diperlukan alternatif bahan alami yang lebih aman. Yoghurt sebagai sumber probiotik dan minyak cengkeh yang mengandung eugenol memiliki potensi sebagai bahan dasar obat kumur alami. Namun, penelitian terkait karakteristik fisik sediaan kombinasi kedua bahan tersebut masih terbatas, khususnya dalam aspek kestabilan pH dan penampakan warna yang memengaruhi kenyamanan penggunaan. Research gap dalam penelitian ini adalah belum banyaknya kajian mengenai formulasi sederhana obat kumur berbasis bahan alami dengan evaluasi parameter fisik dasar. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana karakteristik pH dan warna dari sediaan obat kumur kombinasi yoghurt dan minyak cengkeh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik tersebut sebagai dasar pengembangan produk. Metode yang digunakan adalah penelitian eksperimen sederhana dengan melakukan formulasi beberapa variasi konsentrasi yoghurt dan minyak cengkeh, kemudian dilakukan pengujian pH menggunakan pH meter serta pengamatan warna secara visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan memiliki pH berkisar antara 4–6 yang masih relatif sesuai dengan kondisi rongga mulut, serta menghasilkan warna putih kekuningan yang dipengaruhi oleh komposisi bahan. Kesimpulan penelitian ini adalah kombinasi yoghurt dan minyak cengkeh berpotensi diformulasikan sebagai obat kumur alami dengan karakteristik pH dan warna yang cukup stabil dan dapat diterima. Kata kunci: yoghurt, minyak cengkeh, obat kumur alami, pH, warna , Candida albicans, sariawan.
PEMANFAATAN BUAH NAGA ( Hylocereus polyrhizus ) UNTUK EDIBLE STRAW SEBAGAI PENGGANTI SEDOTAN PLASTIK
Penulis: Nafiza Zalfa Ashalina, Umi Kayla Yumna Nadzifah
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan inovasi sedotan ramah lingkungan berupa edible straw yang terbuat dari campuran kulit dan daging buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) sebagai alternatif pengganti sedotan plastik. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada meningkatnya permasalahan limbah plastik, khususnya sedotan sekali pakai yang sulit terurai dan berdampak buruk bagi lingkungan. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen kuantitatif dengan beberapa tahapan, yaitu pembuatan puree buah dan kulit naga, pencampuran bahan tambahan (tapioka, karagenan, dan gliserin), proses pencetakan, pengeringan, serta pengujian karakteristik fisik dan biodegradabilitas. Uji yang dilakukan meliputi ketebalan, bentuk, kelenturan, serta uji ketahanan terhadap suhu dan uji biodegradabilitas di dalam tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa edible straw yang dihasilkan memiliki bentuk yang cukup kuat, fleksibel, dan dapat digunakan sebagai sedotan dalam waktu tertentu. Selain itu, edible straw terbukti bersifat biodegradable dan dapat terurai hampir seluruhnya dalam waktu sekitar 30 hari. Penggunaan bahan alami juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan karena tidak menghasilkan limbah berbahaya. Dengan demikian, edible straw berbahan dasar kulit dan buah naga merah memiliki potensi besar sebagai solusi alternatif pengganti sedotan plastik yang ramah lingkungan. Namun, diperlukan pengembangan lebih lanjut untuk meningkatkan daya tahan dan kualitas produk agar dapat digunakan secara lebih luas. Kata kunci : biodegradable, buah naga, edible straw, limbah plastik, ramah lingkungan
ZENA (Zedoaria Needle Application): Formulasi Microneedle Ekstrak Kunyit Putih (Curcuma zedoaria) Sebagai Alternatif Terapi Nyeri Haid (Dismenore) Berbasis Teknologi Transdermal
Penulis: Izzatin Nurul Luthfiyah, Salma Salsabila
Nyeri haid atau dismenore merupakan keluhan umum pada wanita saat menstruasi akibat peningkatan prostaglandin yang memicu kontraksi otot rahim, ditandai nyeri kram pada perut bagian bawah atau panggul. Microneedle patch merupakan inovasi sistem penghantaran obat transdermal yang mampu menyalurkan senyawa aktif ke sirkulasi sistemik melalui jarum mikro pada patch kecil, efektif menghantarkan senyawa perelaksasi otot rahim. Kunyit putih mengandung senyawa bioaktif, terutama bisdemethoxycurcumin, yang berpotensi sebagai antiinflamasi dan analgesik melalui penghambatan cyclooxygenase-2 (COX-2) dan produksi prostaglandin. Penelitian ini bertujuan mengembangkan sistem penghantaran transdermal curcumin berbasis microneedle patch sebagai alternatif terapi dismenore primer yang efektif dan aman. Pengujian in silico dilakukan dengan menganalisis interaksi senyawa aktif kunyit putih terhadap protein COX-2 (PDB: 5KIR). Patch microneedle diformulasikan dalam F0, F1, F2, dan F3, kemudian dikarakterisasi melalui uji organoleptik, susut pengeringan, daya serap kelembaban, uji lipat balik, dan pH. Hasil menunjukkan seluruh senyawa turunan kunyit putih memenuhi kriteria Lipinski, dengan bisdemethoxycurcumin sebagai senyawa paling potensial (binding affinity -8,1 Å). Formulasi terbaik adalah F3 dengan stabilitas fisikokimia tertinggi, susut pengeringan 2,1%, daya serap kelembaban 2,3%, pH netral, dan daya lipat >200 kali. Kata Kunci: curcumin, dismenore, kunyit putih, microneedle patch
ANALISIS KITOSAN KULIT UDANG DAN KARBON AKTIF GERGAJI KAYU SEBAGAI TEKNOLOGI FILTER AIR RAMAH LINGKUNGAN
Penulis: Tazkya Amalia Asbaturrohmah, Safira Aulia Rahma
Air bersih adalah salah satu sumber daya alam yang harus diperhatikan oleh semua pihak. Sebagian besar daerah di Indonesia memiliki jumlah sumber daya air yang cukup, tetapi kualitas airnya rendah. Menurut badan pusat statistik, Pada Desember 2023 jumlah air bersih yang tersalurkan mencapai 4.375.697 m3. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas air yaitu dengan proses filtrasi menggunakan kitosan dari kulit udang dan arang aktif dari serbuk gergaji. Kitosan adalah senyawa turunan kitin dan biopolimer yang banyak digunakan sebagai koagulan dalam pengolahan air limbah dan adsorben ion logam. Kitosan banyak ditemukan di cangkang hewan kelompok rustaceae seperti kepiting, udang dan lobster. Cangkang udang terdiri dari tiga komponen utama yang dapat digunakan sebagai bahan kitosan yaitu protein (25%-44%), kalsium karbonat (45%-50%), dan kitin (15%-20%). Penggunaan karbon aktif dalam sistem biofiltrasi juga dapat membantu menghilangkan zat organik, menghasilkan air biologis yang stabil, mengikat logam berat, dan menurunkan tingkat kekeruhan air. Gergaji kayu mengandung lignin (16%-33%), selulosa (40%-50%), dan hemiselulosa (25%-35%) sehingga berpotensial untuk dijadikan karbon aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan kitosan kulit udang dan arang aktif serbuk gergaji sebagai bahan filtrasi air limbah. Metode yang akan digunakan adalah pembuatan adsorben, pengujian karakterisasi adsorben, dan dilanjutkan pengujian sebagai adsorben filter air. Menurut hasil, Karbon aktif adalah jenis adsorben paling efektif sebagai filter air karena berperan aktif dalam uji pH air dan TDS. Yang ditunjukkan dengan hasil nilai pH sebesar 7,09 dan nilai penurunan TDS sebesar 65%. Adsorben arang aktif merupakan adsorben paling efektif dalam mengurangi kadar Cu dalam air dengan nilai penurunan sebesar 58,5%.
Kertas Daur Ulang Anti-Rayap Berbasis Kertas Bekas, Ampas Tebu, Dan Limbah Rokok: Studi Inovasi Di Kudus
Penulis: Hafiz Jausyaq Fauzi Santoso, Rendra Azhar Pradiptya
ABSTRAK Peningkatan jumlah limbah kertas, ampas tebu, dan limbah rokok menjadi salah satu permasalahan lingkungan yang memerlukan upaya pemanfaatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan limbah rokok terhadap sifat antirayap pada kertas daur ulang berbahan dasar kertas bekas dan ampas tebu serta menentukan variasi yang memberikan ketahanan terbaik. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan tiga variasi perlakuan, yaitu sampel X, Y, dan Z yang dibedakan berdasarkan persentase penambahan limbah rokok. Setiap sampel diuji selama 72 jam menggunakan 10 ekor rayap tanah (Coptotermes sp.) dengan tiga kali ulangan. Parameter yang diamati meliputi mortalitas rayap dan kehilangan berat (loss weight) kertas setelah pengujian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan persentase limbah rokok berpengaruh terhadap peningkatan sifat antirayap pada kertas daur ulang. Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi kandungan limbah rokok, semakin tinggi mortalitas rayap dan semakin rendah kehilangan berat kertas akibat konsumsi rayap. Dengan demikian, kombinasi kertas bekas, ampas tebu, dan limbah rokok dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kertas daur ulang yang memiliki sifat antirayap. Kata kunci: kertas daur ulang, ampas tebu, limbah rokok, antirayap, Coptotermes s
Lumina Guard : Sistem Penerangan Jalan Otomatis Ramah Lingkungan Berbasis Sensor Piezoelektrik dan Arduino Nano
Penulis: Naila Afuw Queenara, Niatus Sholikhah
Lalu lintas memiliki peranan yang sangat vital dalam kehidupan masyarakat karena menjadi sarana utama dalam memperlancar pembangunan serta mendukung aktivitas sosial dan perekonomian. Namun, tingginya angka kecelakaan lalu lintas setiap tahun, yang tidak hanya menimbulkan kerugian material tetapi juga korban jiwa, menegaskan pentingnya peningkatan keselamatan berkendara. Salah satu faktor penyebab utama kecelakaan adalah keterbatasan penglihatan pengemudi, terutama pada malam hari di daerah yang minim penerangan jalan umum. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, penelitian ini mengusulkan solusi inovatif berupa sistem penerangan jalan otomatis ramah lingkungan bernama “Lumina Guard”. Sistem ini bekerja dengan memanfaatkan energi mekanik dari tekanan kendaraan yang melintasi polisi tidur yang telah dipasangi sensor piezoelektrik. Energi mekanik tersebut dikonversi menjadi energi listrik, disimpan melalui sistem kontrol Arduino Nano, dan digunakan untuk menyalakan lampu LED hemat energi secara otomatis. Melalui mekanisme ini, Lumina Guard tidak hanya mengoptimalkan pencahayaan jalan tanpa memerlukan sumber listrik eksternal, tetapi juga mendukung upaya penghematan energi serta pengurangan emisi karbon. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sensor piezoelektrik mampu menghasilkan tegangan listrik berkisar 2,0–0,5 V akibat tekanan mekanik kendaraan. Pada tegangan 2,0 V lampu LED menyala sangat terang, tetap berfungsi baik pada 1,8 1,6 V, mulai redup pada 1,3 V, dan tidak menyala pada 0,5 V. Penerapan sistem ini diharapkan mampu meningkatkan keselamatan pengguna jalan dengan memberikan pencahayaan yang lebih stabil dan efisien, terutama di wilayah minim penerangan. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi dalam pengembangan teknologi ramah lingkungan berbasis energi terbarukan yang dapat diterapkan secara praktis untuk mendukung keselamatan transportasi dan keberlanjutan energi di masa depan. Kata kunci: Lalu Lintas, Sensor Piezoelektrik, Arduino Nano, Energi Terbarukan, Penerangan Jalan Otomatis
IBIDE (Intelligent Biofoam Detector): Kemasan Pintar Pendeteksi Kesegaran Daging Sapi Berbasis Antosianin Kulit Buah Naga Dari Limbah Ampas Tebu dan Kulit Pisang Raja
Penulis: Kirana laksita damayanti, Naila Azfa Royyana
Styrofoam merupakan kemasan makanan yang sering digunakan untuk makanan cepat saji atau makanan olahan lainnya. Namun, styrofoam bersifat tidak mudah terurai sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk merubah styrofoam menjadi produk biofoam yang ramah lingkungan dan mampu mendeteksi kesegaran daging sapi dengan memanfaatkan limbah kulit pisang raja, ampas tebu, dan kulit buah naga. Pembuatan biofoam dilakukan melalui pencampuran PVA dengan air panas lalu menambahkan serat dan pati dengan formulasi F1 (5g serat : 5g pati), F2 (2,5g serat : 5g pati), F3 (1,25g serat : 5g pati). Biofoam yang dihasilkan, akan di uji biodegradability, uji organoleptis, uji foto optik, uji kebocoran, uji impact. Biofoam kemudian ditambah ekstrak kulit buah naga, ekstrak kulit buah naga: metil merah (1:1) dan metil merah, sebagai detector kesegaran daging sapi. Pengujian biofoam dilakukan pada daging sapi segar yang disimpan pada dua kondisi kemudian dikemas dalam biofoam dan ditutup plastik wrap. Kondisi pertama, daging dimasukkan ke dalam kulkas dan kondisi kedua, dibiarkan dalam ruangan terbuka. Formulasi terbaik biofoam yang dihasilkan adalah F3 dengan kemampuan biodegradability selama 2 hari dengan permukaan berongga atau lapuk, uji impact sebesar 1,02 kJ/ m², uji daya serap air sebesar 0,49%, uji kebocoran dengan hasil tidak mengalami kebocoran. Pada pengujian biofoam sebagai detector kebusukan daging, sample biofoam yang di campur metil merah dan ekstrak kulit buah naga menunjukan perubahan warna paling signifikan diantara ketiga biofoam. Perubahan warna yang terjadi dari merah gelap dengan nilai Mean RGB 82.924 dengan pH daging 6,15, menjadi kuning kemerahan dengan nilai mean RGB 106.705dengan pH daging 7,31. Kata kunci: Biofoam, Kulit buah naga, Ampas tebu, Daging sapi, Antosianin.
PEMANFAATAN LIMBAH KLOBOT JAGUNG SEBAGAI BAHAN DASAR BIOSTYROFOAM SEBAGAI UPAYA DALAM PENGGUNAAN STYROFOAM RAMAH LINGKUNGAN
Penulis: Nayla Rizqy Aulia, Kharisma Alifiya Zulfa
Salah satu jenis kemasan sekali pakai yang sering digunakan oleh masyarakat adalah Styrofoam yang merupakan plastik dengan bahan dasar dari polistirena yang memiliki dampak buruk terhadap kesehatan. Selain itu, Styrofoam dinilai kurang ramah lingkungan karena membutuhkan waktu yang lama untuk proses penguraian oleh mikroorganisme dalam tanah sehingga bisa menjadi masalah tersendiri bagi lingkungan. Menurut Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia merupakan negara dengan peringkat ke 2 setelah China dalam menghasilkan sampah plastik (styrofoam) sebesar 187,2 ton dengan Persentase mencapai 1,14% dari 12% sampah plastik yang terkumpul setiap bulannya. Salah satu bahan yang dapat digunakan untuk menggantikan styrofoam adalah biodegradable foam, yaitu foam berbasis selulosa dan pati yang aman bagi kesehatan serta dapat diuraikan secara alami. Kulit jagung mempunyai kandungan selulosa yang tinggi. Jenis limbah tersebut memiliki potensi menjadi bahan baku biodegradable foam. Penambahan polimer sintetik polivinil alkohol (PVA) diharapkan mampu meningkatkan kualitas mekanik biodegradable foam. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh formulasi terbaik untuk pembuatan biodegradable foam dari kulit jagung dengan menambahkan PVA. Kualitas biofoam yang dievaluasi antara lain daya serap air, kebocora, dan tingkat biodegradabilitas. Uji daya serap air menggunakan metode ABNT NBR NM ISO 535 (1999). Uji tingkat biodegradabilitas menggunakan metode soil burial test. Dan uji kebocoran menggunakan cara meneteskan air keatas sampel selama 1 menit . Hasil terbaik yang didapatkan dalam uji daya serap adalah 0,77%, uji biodegradabilitas mendapatkan hasil terbaik selama 2 bulan, dan uji kebocoran menunjukkan bahwa semua sampel tidak mengalami kebocoran dan layak digunakan. Kata kunci: Biodegradable foam, klobot, PVA, Styrofoam
SYMPHOMI (SYPHILIS MICRONEEDLE PATCH OF AVERRHOA BILIMBI): MICRONEEDLE ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN BELIMBING WULUH TERHADAP BAKTERI TREPONEMA PALLIDUM
Penulis: Artha Ghitza Aulya, Kaysa Fardatus Syakira
Sifilis merupakan salah satu penyakit mematikan yang menginfeksi melalui organ reproduksi. Sifilis termasuk penyakit menyebar menular reproduksi karena aktivitas mikroorganisme Treponema pallidum (T. pallidum). Sifilis memiliki karakteristik berkelanjutan dan menyeluruh yang dapat menyerang semua organ tubuh (Darmawan, dkk., 2020). Sifilis memiliki karakteristik berkelanjutan dan menyeluruh yang dapat menyerang semua organ tubuh. Belimbing wuluh positif mengandung senyawa metabolit sekunder berupa flavonoid, alkaloid, saponin dan tanin. Senyawa metabolit sekunder memiliki fungsi sebagai pertahanan yang mana dapat dijadikan sebagai antibakteri. Penggunaan senyawa untuk antibakteri dari bahan alami akan bersifat lebih ramah lingkungan, aman, dan mudah didapat. Penelitian kali ini menggunakan microneedle patch sebagai produk antibakteri. Microneedles memiliki lebih banyak kelebihan daripada patch transdermal lainnya, seperti minim rasa sakit, onset kerja yang lebih cepat, permeabilitas yang lebih tinggi, dan lebih efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak belimbing wuluh dalam menghambat bakteri Treponema pallidum (T. pallidum) dan mengetahui kandungan fitokimia ekstrak belimbing wuluh, serta mengetahui karakteristik microneedle yang dihasilkan dari ekstrak belimbing wuluh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa salah satu senyawa uji pada belimbing wuluh yang diuji mendekati ampuh dalam menjadi penghambat bakteri Treponema pallidum dan memenuhi syarat patch microneedle. Selain itu, belimbing wuluh positif mengandung senyawa metabolit sekunder alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin. Dari hasil tersebut disimpulkan bahwa formula terbaik dihasilkan dari patch sediaan microneedle yang menghasilkan karakteristik pada pengujian organoleptik. Formula terbaik yang dihasilkan dari patch sediaan microneedle adalah formula F2 (10% ekstrak) yang menghasilkan karakteristik yaitu pada pengujian organoleptik didapatkan fleksibilitas yang baik, berwarna dan memiliki sedikit gelembung udara, memiliki pH standar yang baik untuk kulit yaitu 4, uji susut dengan persentase 0%, dan uji daya serap kelembaban dengan persentase 5%, uji keseragaman bobot tidak memenuhi syarat deviasi nya, formula 2 mendapatkan persentase yang paling mendekati dari syarat deviasi. Memiliki sedikit gelembung udara, memiliki pH standar yang baik untuk kulit yaitu 4, uji susut dengan persentase 0%, dan uji daya serap kelembaban dengan persentase 5%, uji keseragaman bobot tidak memenuhi syarat deviasi nya, formula 2 mendapatkan persentase yang paling mendekati dari syarat deviasi.