1196 Hasil Pencarian
FORMULASI dan KARAKTERISTIK SEDIAAN DEODORAN SPRAY EKSTRAK ROSEMARY (Salvia rosmarinus Spenn. syn. Rosmarinus officinalis L.)
Penulis: Niken Dea Safira, Dinara Syafina Zahrotussita
Bau badan merupakan salah satu permasalahan yang dapat mengganggu kenyamanan dan kepercayaan diri. Salah satu upaya untuk mengatasi bau badan adalah dengan menggunakan deodoran. Rosemary (Rosmarinus officinalis L.) diketahui memiliki kandungan minyak atsiri dan senyawa antibakteri yang berpotensi digunakan sebagai bahan aktif deodoran spray alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sediaan deodoran spray ekstrak rosemary dengan variasi konsentrasi yang berbeda. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen sederhana dengan membuat tiga formula deodoran spray, yaitu F1 (5%), F2 (10%), dan F3 (15%). Ekstrak rosemary diperoleh dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%. Selanjutnya dilakukan pengujian mutu fisik sediaan meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, dan stabilitas selama 3 hari penyimpanan pada suhu ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi ekstrak rosemary memengaruhi karakteristik sediaan deodoran spray. Formula F1 menunjukkan hasil paling baik dengan campuran yang homogen, stabil, dan memiliki pH 5 yang sesuai dengan pH kulit. Formula F2 mengalami pemisahan fase, sedangkan formula F3 membentuk lapisan dan endapan sehingga sediaan menjadi kurang homogen. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak rosemary yang digunakan, maka kestabilan sediaan cenderung menurun. Kata kunci: deodoran spray, rosemary, minyak atsiri, stabilitas, uji mutu fisik
PEMBUATAN SERUM UNTUK TANAMAN ADENIUM MENGGUNKAN TULANG AYAM DAN KULIT PISANG
Penulis: Akmal Girindra Santiko
Tanaman Adenium, yang populer di Indonesia karena bunganya yang berwarna-warni dan batangnya yang unik, sering mengalami stagnasi pertumbuhan setelah 1-2 tahun karena penipisan nutrisi tanah akibat pupuk kimia. Studi ini memanfaatkan limbah yang melimpah tulang ayam (kaya akan kalsium 47,8% dan fosfor 11,7%) dan kulit pisang (tinggi kalium 42%, kalsium 7,8%, fosfor 2,06%) menjadi serum berbasis air cucian beras untuk vitamin dan nutrisi. Percobaan ini menggunakan pendekatan kuantitatif di MAN 2 Kudus mulai September 2025 Hingga Oktober 2025. Serum disiapkan dengan mengeringkan, menggiling tulang dan kulit, melarutkan dalam 1 liter air, menambahkan vitamin B1 (0,20%), dan mencampur dengan rendaman beras (fermentasi dengan gula merah). Dua subjek Adenium menerima serum dengan rasio 1:1 (tulang:kulit) dan 1:2, disemprotkan 4 kali seminggu selama 5 minggu; pertumbuhan (tinggi, diameter batang, jumlah daun, ukuran daun) diukur setiap hari. Kedua rasio tersebut meningkatkan pertumbuhan dibandingkan kontrol, tetapi rasio 1:2 menunjukkan hasil yang lebih unggul: diameter batang meningkat menjadi 7,2 cm (dibandingkan 6,9 cm pada rasio 1:1), jumlah daun menjadi 30 (dibandingkan 27), tinggi tanaman meningkat menjadi 8,5 cm, dan ukuran daun meningkat menjadi 1,8-2,5 cm. Tabel mencatat kemajuan mingguan, dengan perubahan yang terlihat pada minggu ke-2.
Natural Bio Sunscreen dari Minyak Syzygium aromaticum dan Minyak Cocos nucifera
Penulis: Fachrizal Jody Suwarjuliyanto, Abdullah Umar Faqih
Perubahan iklim global yang menyebabkan peningkatan suhu dan intensitas sinar ultraviolet menjadi tantangan besar di Indonesia. Kondisi ini meningkatkan risiko kerusakan kulit akibat paparan sinar matahari yang berlebihan, seperti sunburn, penuaan dini, dan risiko kanker kulit. Oleh karena itu, dibutuhkan solusi alami yang efektif untuk melindungi kulit dari dampak negatif tersebut sekaligus ramah lingkungan. Bio sunscreen merupakan tabir surya yang bahan utamanya berasal dari senyawa alami; penelitian ini mengevaluasi potensi minyak Syzygium aromaticum (minyak cengkeh) dan minyak Cocos nucifera (minyak kelapa) sebagai bahan bio-sunscreen. Penelitian eksperimen kuantitatif dilaksanakan di laboratorium Olimpiade dan Sains Terpadu Madrasah Aliyah Negeri 2 Kudus pada Januari–Maret 2026. Dua formulasi dibuat: sampel 1 dengan minyak cengkeh 0,5 sdm, minyak kelapa 40 ml, gelatin 1 sdm, air panas 40 ml, vitamin E 2 tablet dan sampel 2 dengan minyak cengkeh 0,5 sdm, minyak kelapa 60 ml, gelatin 1,5 sdm, air panas 50 ml, vitamin E 2 tablet. Evaluasi meliputi uji fisik (kekentalan, bau, warna, tekstur) dan uji efektivitas perlindungan UV menggunakan UV tester pada UV card. Hasil menunjukkan sampel 2 lebih efektif menghalang sinar UV dibanding sampel 1, terlihat dari hasil uji pada UV card; namun pada kedua sampel masih ditemukan bercak keunguan yang mengindikasikan penetrasi sinar UV. Kesimpulannya, kombinasi minyak cengkeh dan minyak kelapa memiliki potensi sebagai bio-sunscreen alami namun efektivitasnya belum optimal. Disarankan pengembangan formulasi lebih lanjut, misalnya penambahan zinc oxide dan pengujian SPF in vitro untuk validasi. Kata kunci: Bio sunscreen, Minyak cengkeh, Minyak kelapa
RANCANG BANGUN SISTEM KONTROL KUALITAS PENYIMPANAN FERMENTASI KEJU BERBASIS IOT
Penulis: Canavaro Dwi Susilo, Wildan Irsyada El Hakim
Fermentasi keju sangat dipengaruhi kestabilan suhu dan kelembaban, sehingga diperlukan sistem pemantauan yang andal. Penelitian ini merancang sistem berbasis IoT menggunakan ESP32 untuk memantau kedua parameter tersebut dan membandingkannya dengan kondisi tanpa kontrol otomatis. Data suhu dan kelembaban dikumpulkan secara time-series selama 3 jam dan dianalisis dengan metode kuantifikasi kinerja sistem melalui perhitungan rata-rata dan Time-in-Range (TIR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu fermentasi dengan sistem IoT mencapai TIR 82% dibandingkan 9.44% tanpa sistem, sedangkan kelembaban meningkat menjadi 73% dibandingkan 5.0%. Dengan demikian, sistem kontrol kualitas berbasis IoT terbukti mampu meningkatkan kestabilan suhu dan kelembaban lebih dari 70%, sehingga dapat mengurangi risiko fluktuasi dan menjaga mutu fermentasi keju lebih konsisten. Kata kunci: IoT, fermentasi keju, suhu, kelembaban
Uji Efektivitas BitBerry Lip Scrub (Ekstrak Buah Strawberry dan Bit) sebagai Eksfoliator Bibir pada Remaja
Penulis: A’izza Tsaqufa Arda, Septiana Ramandhani
Kesehatan dan estetika bibir sangat dipengaruhi oleh kondisi lapisan kulit terluarnya. Penumpukan sel kulit mati dapat menyebabkan bibir tampak kusam, kering, dan kurang terawat. Salah satu upaya untuk mengatasinya adalah dengan penggunaan lip scrub sebagai eksfoliator alami. Kedua bahan tersebut dipilih karena mengandung senyawa bioaktif, seperti antosianin, vitamin C, dan antioksidan yang berperan dalam regenerasi sel kulit, menjaga kelembapan, serta melindungi bibir dari radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas serta formulasi terbaik dari BitBerry Lip Scrub. BitBerry dibuat dengan mengekstrak buah bit dan buah strawberry dengan perbandingan komposisi antara strawberry : bit : madu : minyak kelapa pada tiap formula yaitu F1 (2:1:3:1), F2 (2:1:2:2), F3 (2:1:1:3), F4 (3:1,5:3:1), F5 (3:1,5:2:2), F6 (3:1,5:1:3). Dengan demikian, lip scrub BitBerry berpotensi dikembangkan sebagai produk perawatan bibir berbahan alami yang efektif, aman, dan ramah lingkungan. Pengujian yang dilakukan yaitu uji hedonik pada 8 remaja dengan parameter meliputi tekstur, warna, kelembapan, dan aroma. Skala yang digunakan adalah skala hedonik 1–5, mulai dari sangat tidak suka hingga sangat suka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula (F1–F6) dapat diterima oleh panelis dengan kategori cukup suka hingga sangat suka. Namun, terdapat perbedaan tingkat kesukaan pada masing-masing formula. Formula dengan komposisi ekstrak strawberry dan bit yang paling seimbang memperoleh nilai rata-rata tertinggi dibandingkan formula lainnya, terutama pada aspek tekstur dan kelembutan bibir setelah penggunaan. Produk juga dinilai mampu membantu mengangkat sel kulit mati dan membuat bibir terasa lebih halus serta lembap. Formula dengan komposisi ekstrak BitBerry yang paling seimbang terhadap tinggi dibanding formula lainnya yaitu formulasi 4 (3:1,5:3:1). Kata kunci : lip scrub, eksfoliasi, buah bit, buah strawberry, perawatan bibir
Uji Efektivitas Getah Daun Penisilin sebagai Gel Kandidat Penyembuh Luka Insisi
Penulis: Hajar Hesti Eriyanti, Rasya Aulia Subha
Luka Insisi merupakan jenis luka superfisial yang umum terjadi dan memerlukan penanganan yang tepat untuk mencegah infeksi serta mempercepat proses penyembuhan. Getah daun penisilin diketahui mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai agen antibakteri dan antiinflamasi sehingga berpeluang dimanfaatkan sebagai bahan penyembuh luka. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas getah daun penisilin yang diformulasikan dalam bentuk gel sebagai kandidat penyembuh luka Insisi. Metode penelitian meliputi proses pembuatan gel getah daun penisilin, pengujian mutu fisik sediaan, serta uji efektivitas penyembuhan luka Insisi pada model percobaan dengan parameter penurunan luas luka dan waktu penyembuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gel getah daun penisilin memiliki stabilitas fisik yang baik dan mampu mempercepat proses penyembuhan luka Insisi dibandingkan dengan kontrol. Dengan demikian, getah daun penisilin berpotensi dikembangkan sebagai sediaan gel alternatif untuk penyembuhan luka Insisi.
Sistem Lampu Isyarat sebagai Alternatif Bel untuk Penyandang Tunarungu
Penulis: Kaishameru Amartya Syachilma, Mumtaza Danastri Winarta
Bel berbasis audio tidak mampu memberikan notifikasi yang responsif bagi penyandang tunarungu, sehingga menghambat komunikasi di lingkungan rumah. Penelitian ini merancang sistem lampu isyarat sebagai alternatif bel konvensional yang memanfaatkan rangsangan visual. Perangkat ini disusun menggunakan komponen sederhana meliputi tombol bel, LED, buzzer, kabel, dan baterai. Saat tombol ditekan, rangkaian tertutup akan mengalirkan arus listrik sehingga LED menyala sebagai tanda peringatan. Hasil penelitian membuktikan bahwa alat ini bekerja secara efektif dengan intensitas cahaya yang mudah terlihat dan penggunaan yang intuitif. Intensitas cahaya yang dihasilkan cukup kontras untuk menarik perhatian pengguna di dalam ruangan, dan desainnya yang intuitif memastikan alat dapat dioperasikan tanpa pelatihan khusus. Meskipun masih berupa prototipe, sistem ini memberikan solusi praktis dan terjangkau untuk mendukung aksesibilitas tunarungu. Penelitian ini diharapkan menjadi fondasi untuk pengembangan lebih lanjut, seperti integrasi teknologi nirkabel (wireless) atau konektivitas sistem rumah pintar (smart home) guna memperluas jangkauan sinyal di area yang lebih luas. Penelitian mendatang dapat dikembangkan melalui penggunaan teknologi nirkabel atau integrasi sistem pintar guna memperluas jangkauan penggunaan. Kata Kunci: Bel Rumah, Lampu Isyarat, Tunarungu, Alat Bantu
LEZADOT: Edible Dot dari Ekstrak Karagenan Rhodophyceae
Penulis: Nebhan Saqif, Muhammad Ghotfan Alaudin Akbar
Penggunaan dot bayi berbahan plastik berpotensi menjadi salah satu sumber paparan mikroplastik yang dapat berdampak terhadap kesehatan bayi. Kondisi tersebut mendorong pengembangan material alternatif yang lebih aman, ramah lingkungan, dan berasal dari sumber daya terbarukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan LEZADOT, yaitu edible dot berbahan dasar ekstrak karagenan dari rumput laut merah (Rhodophyceae), serta menganalisis karakteristik fisiknya melalui pengujian kerapatan dan daya serap air. Penelitian menggunakan metode eksperimen kuantitatif dengan tahapan ekstraksi karagenan, formulasi adonan, pencetakan, pengeringan, dan pengujian terhadap dua sampel produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel A memiliki nilai kerapatan sebesar 1,2 g/cm³ dengan daya serap air 16,7%, sedangkan sampel B memiliki nilai kerapatan 1,0 g/cm³ dengan daya serap air 30%. Nilai kerapatan yang lebih tinggi pada sampel A menunjukkan struktur material yang lebih padat sehingga menghasilkan daya serap air yang lebih rendah dan ketahanan yang lebih baik dibandingkan sampel B. Produk LEZADOT yang dihasilkan memiliki bentuk menyerupai dot bayi, berwarna bening keputihan, bertekstur kenyal dan elastis, serta berpotensi menjadi alternatif pengganti dot berbahan plastik karena memanfaatkan bahan alami berbasis rumput laut. Meskipun demikian, penelitian lanjutan masih diperlukan untuk meningkatkan ketahanan produk dan menguji aspek keamanan serta performanya secara lebih komprehensif sebelum dapat diaplikasikan secara luas. Kata kunci: LEZADOT, edible dot, karagenan, Rhodophyceae, mikroplastik, rumput laut.
Inovasi Gastroguard bar: Formulasi Herbal Berbahan Alami dalam Pengelolaan dan Reduksi Gejala Gastritis dan Gerd(Gastroesophageal Reflux Disease)
Penulis: Dwi Salsabila Apriliani, Khoirin Nida Lutfiyah
Perkembangan gaya hidup modern yang ditandai dengan meningkatnya konsumsi makanan cepat saji, pola makan tidak seimbang, serta jadwal makan yang tidak teratur berkontribusi terhadap meningkatnya prevalensi gangguan pencernaan, khususnya gastritis dan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Kondisi ini dapat menurunkan kualitas hidup dan produktivitas penderitanya, sehingga diperlukan solusi yang efektif, praktis, dan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan inovasi pangan fungsional berupa snack bar herbal bernama Gastroguard Bar sebagai upaya preventif dan manajemen gejala gangguan lambung. Gastroguard Bar diformulasikan menggunakan bahan alami yang memiliki sifat protektif terhadap mukosa lambung, yaitu tepung umbi garut sebagai sumber pati yang mudah dicerna, oat sebagai sumber serat, serta kombinasi herbal aktif meliputi chamomile (Matricaria chamomilla) sebagai antiinflamasi dan penenang, lidah buaya (Aloe vera) untuk mempercepat penyembuhan iritasi lambung, dan adas (Foeniculum vulgare). Penelitian ini menggunakan pendekatan eksperimental dengan variasi formulasi bahan yang dievaluasi berdasarkan uji organoleptik serta daya simpan produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi Gastroguard Bar berpotensi mengurangi gejala seperti nyeri lambung, mual, dan kembung, serta memiliki tingkat penerimaan yang baik sebagai camilan sehat. Produk ini juga berpotensi mencegah kekambuhan gastritis dan GERD akibat pola makan yang buruk. Dengan demikian, Gastroguard Bar diharapkan menjadi alternatif pangan fungsional yang praktis, ekonomis, serta mendukung pemanfaatan bahan lokal dalam pengembangan produk untuk kesehatan. Kata Kunci : Gastritis, GERD, Snackbar herbal, pangan fungsional, asam lambung
Pengaruh Penambahan Pektin Kulit Apel Terhadap Karakteristik Bioplastik Pati Sagu: Studi Perbandingan
Penulis: Khanifa Nurma Aulia, Keisha Nadyamecca Salsabila Hidayat
Peningkatan penggunaan plastik konvensional telah menyebabkan berbagai permasalahan lingkungan karena sifatnya yang sulit terurai secara alami. Salah satu alternatif yang dapat dikembangkan adalah bioplastik berbahan dasar pati sagu yang dipadukan dengan pektin dari kulit apel sebagai bahan penguat alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan pektin kulit apel terhadap karakteristik bioplastik berbasis pati sagu, menentukan rasio pektin yang paling efektif, serta mengevaluasi sifat mekanik, ketahanan air, dan biodegradabilitas bioplastik yang dihasilkan. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan tiga perlakuan, yaitu penambahan pektin sebanyak 0 gram (kontrol), 5 gram, dan 10 gram. Bioplastik dibuat dari campuran pati sagu, gliserol, asam sitrat, air, dan pektin kulit apel, kemudian diuji berdasarkan sifat mekanik, ketahanan terhadap air, dan kemampuan terurai secara alami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan pektin kulit apel meningkatkan kualitas bioplastik. Sampel dengan penambahan pektin 10 gram memiliki kelenturan dan kekuatan tarik yang lebih baik serta ketahanan air yang lebih tinggi dibandingkan sampel kontrol. Seluruh sampel bersifat biodegradable, meskipun laju degradasi pada bioplastik dengan kandungan pektin lebih tinggi berlangsung lebih lambat karena struktur film yang lebih rapat. Dengan demikian, pektin kulit apel berpotensi menjadi bahan tambahan alami yang dapat meningkatkan karakteristik bioplastik berbasis pati sagu serta mendukung pemanfaatan limbah organik sebagai material ramah lingkungan.