1196 Hasil Pencarian

Analisis Potensi Senyawa Quercetin dari Bawang Merah (Allium cepa var. aggregatum) sebagai Agen Antidiabetes terhadap Enzim ?-Glukosidase Secara In Silico

Penulis: Muhammad Yusril Achyar El Auf, Muhamad Khoiruzzad

Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa dalam darah. Jika tidak dikendalikan dengan baik, kondisi ini dapat meningkatkan risiko terjadinya berbagai komplikasi. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk membantu mengendalikan kadar glukosa darah adalah dengan menghambat kerja enzim ?-glukosidase yang berperan dalam proses pemecahan karbohidrat. Bawang merah (Allium cepa var. aggregatum) diketahui mengandung quercetin, yaitu senyawa flavonoid yang berpotensi memiliki aktivitas antidiabetes. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi quercetin dalam berinteraksi dengan enzim ?-glukosidase serta membandingkan hasilnya dengan acarbose sebagai kontrol positif. Metode yang digunakan adalah molecular docking secara in silico menggunakan PyRx berbasis AutoDock Vina dengan ?-glukosidase (PDB ID: 6Z6Z) sebagai protein target. Hasil docking kemudian divisualisasikan menggunakan Discovery Studio Visualizer untuk melihat interaksi yang terbentuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa quercetin memperoleh nilai binding affinity sebesar ?7,6 kcal/mol, sedangkan acarbose sebesar ?6,4 kcal/mol. Nilai tersebut menunjukkan bahwa quercetin memiliki kecenderungan ikatan yang lebih kuat terhadap protein target dibandingkan acarbose. Selain itu, hasil visualisasi menunjukkan bahwa quercetin dan acarbose berinteraksi dengan beberapa residu asam amino yang sama, yaitu Lys59 dan Asn65. Berdasarkan hasil tersebut, quercetin memiliki potensi untuk dikaji lebih lanjut sebagai senyawa antidiabetes yang bekerja melalui interaksi dengan ?-glukosidase. Meskipun demikian, pengujian lebih lanjut secara in vitro dan in vivo masih diperlukan untuk membuktikan aktivitas biologisnya. Kata kunci: ?-glukosidase, antidiabetes, in silico, molecular docking, quercetin

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

TimeCode Matrix: Implementasi Sistem Kriptografi Matriks Berbasis Timestamp Real-Time dalam Bentuk Citra Digital (C-Code)

Penulis: Faiq Fikri Hauzan, Muflih Ghonim

Di era digital saat ini, teknologi semakin berkembang pesat sehingga meninggalkan dampak yang besar, seperti peningkatan risiko ancaman keamanan siber. Masalah tersebut telah menjadi permasalahan pada skala global dibuktikan dengan banyaknya kasus pencurian data lima tahun terakhir. Kriptografi konvensional dianggap sudah tidak mampu menghadapi risiko keamanan global karena memiliki algoritma yang mulai mudah ditebak. Penelitian ini bertujuan mengembangkan sistem kriptografi matriks berbasis timestamp real-time dalam bentuk citra digital (C-Code) yang menghasilkan enkripsi berbeda setiap waktu guna meningkatkan keamanan dan penyamaran data. Metode penelitian yang digunakan melalui tiga tahap perolehan data. Tahap pertama perancangan sistem kriptografi matriks, meliputi studi literatur penggunaan matriks dalam kriptografi, penerapan timestamp, dan mengubah pesan menjadi citra digital. Tahap kedua adalah pengembangan sistem melalui operasi pengalian matriks pesan dengan Matriks Kunci berbasis timestamp real-time sehingga akan menghasilkan enkripsi yang aktual dan dinamis. Hasil enkripsi tersebut, akan diubah menjadi bentuk citra digital (C-Code). Tahap ketiga pengujian sistem yaitu proses enkripsi dan dekripsi menggunakan piranti lunak. Hasil penelitian menunjukkan sistem kriptografi TimeCode Matrix mampu mengenkripsi pesan awal dengan berdasarkan timestamp real-time dan divisualisasikan ke bentuk citra digital (C-Code). Pengujian menunjukkan bahwa proses enkripsi mampu dijalankan secara konsisten dan menghasilkan enkripsi yang berbeda setiap waktu walaupun dengan pesan yang sama. Selain itu, proses dekripsi berhasil mengembalikan pesan asli tanpa kehilangan informasi, membuktikan stabilitas algoritma yang digunakan. Dapat disimpulkan bahwa sistem TimeCode Matrix efektif dalam menghasilkan enkripsi berbasis waktu untuk meningkatkan keamanan data dan meningkatkan resistensi sistem terhadap known-plaintext attack.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

AKTICLITO: Arang Aktif Eceng Gondok dan Zeolit Blotong sebagai Filter Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor

Penulis: Maitsaa Alayya Almunawir, Mahya Zafira Hanania

Indonesia saat ini berada di peringkat 14 dalam daftar negara dengan kualitas udara terburuk di dunia, menurut laporan dari IQAir. Salah satu faktor utama penyebab buruknya kualitas udara ini adalah emisi gas dari transportasi yang menggunakan bahan bakar fosil. Emisi gas tersebut berisi polutan seperti karbon monoksida (CO) dan karbon dioksida (CO?). Untuk meminimalisir pencemaran udara, penggunaan adsorben sangat penting dalam menyerap CO dan CO?. AKTICLITO adalah filter emisi gas yang menggabungkan arang aktif dari eceng gondok dan zeolit dari limbah blotong. Penggunaan AKTICLITO sebagai double adsorben ini diharapkan dapat menyerap CO dan CO? dengan efektif, sekaligus menambah nilai guna pada limbah blotong. Saat dipasang pada knalpot kendaraan, AKTICLITO dapat secara langsung mengurangi konsentrasi polutan dalam gas buang, sehingga gas yang dilepaskan menjadi lebih bersih dan aman bagi lingkungan. Arang aktif diperoleh dari aktivasi eceng gondok dengan asam fosfat yang di furnace. Zeolit berhasil disintesis dengan mengambil filtrat dari larutan campuran natrium silikat dan aluminium silikat. Dilanjutkan karakterisasi dengan uji kadar air, kadar abu, dan kadar zat menguap pada keduanya. Proses adsorpsi diuji dengan mengukur kadar CO? dan CO dari knalpot motor, dan membandingkan antara yang diberi adsorben dan tanpa adsorben. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa zeolit sintesis mempunyai nilai lebih rendah dibandingkan arang aktif. Arang aktif eceng gondok mempunyai kadar air 1,49%; kadar zat penguapan 1,85%; dan kadar abu 1,45%, sedangkan zeolit sintetis memiliki hasil uji kadar air, uji kadar zat penguapan, dan uji kadar abu sebesar 0,215%; 0,60%; dan 3,59% yang menunjukkan bahwa keduanya telah memenuhi syarat mutu adsorben sesuai dengan SII dan SNI. Kombinasi arang aktif berbahan dasar eceng gondok dan zeolit sintetis limbah blotong paling efektif menurunkan kadar CO sebesar 32% untuk CO dan 21% untuk CO?. Semakin banyak penggunaan zeolit sintetis untuk menjadi bahan adsorben, maka semakin besar kadar pengurangan CO dan CO?, perbandingan massa paling efektif arang aktif : zeolit adalah 2:3 dengan penurunan kadar CO sebesar 71% dan kadar CO2 sebesar 23%.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Inovasi Pupuk Cair Bio-silika dari Abu Sekam Padi (Oryza sativa L.) sebagai Upaya Peningkatan Ketahanan Tanaman Melon (Cucumis melo).

Penulis: Hanuun Widya Syifaa', Lubna Hanna Kamalia

Perubahan iklim yang semakin ekstrim berpengaruh besar terhadap kualitas suatu tumbuhan yang merupakan variabel terikat terhadap lingkungan sekitarnya. Salah satu tumbuhan penting dan terkenal di kalangan masyarakat Indonesia yang mendapatkan pengaruh dari dampak ini adalah tanaman melon (Cucumis melo). Perubahan iklim dapat menjadi pembatas budidaya tanaman melon terutama dalam menurunkan ketahanan tanaman terhadap cekaman lingkungan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan ketahanan tanaman adalah melalui pemanfaatan unsur silika. Unsur silika berperan penting dalam perbaikan dan pengoptimalan jaringan tanaman melon. Penelitian ini bertujuan untuk membantu tanaman melon mendapatkan kandungan unsur silika dengan mengembangkan inovasi pupuk cair bio-silika berbahan dasar abu sekam padi (Oryza sativa L.) serta menganalisis pengaruhnya terhadap tumbuh kembang dan ketahanan tanaman melon. Metode penelitian yang dilakukan meliputi pembuatan pupuk cair NPK, ekstraksi silika dari abu sekam padi, kemudian pengujian beberapa perlakuan dan membandingkan hasilnya. Penelitian ini menggunakan tiga Formulasi yaitu, F1 yang mengandung npk dan silika, F2 hanya diberi npk tanpa kandungan silika, dan F3 yang hanya disiram air tanpa diberi pupuk apapun. Ketiga tanaman melon dengan masing-masing formula tersebut diberi perlakuan yang sama yaitu modifikasi lingkungan ekstrim dan cekaman kekeringan di dalam media pot. Parameter yang diamati meliputi data kualitatif berupa perbandingan jumlah daun sehat dan jumlah daun layu sebagai indikator ketahanan terhadap cekaman lingkungan serta data kuantitatif seperti panjang dan jumlah daun untuk mengamati peningkatan pertumbuhan dan perkembangan melon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk cair bio-silika mampu meningkatkan jumlah dan panjang daun serta dapat lebih banyak mempertahankan daun sehat dibandingkan dengan tanaman tanpa perlakuan. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan silika berperan dalam mengembangkan struktur jaringan tanaman serta meningkatkan toleransi terhadap stres lingkungan. Dengan demikian, pupuk cair bio-silika dari abu sekam padi berpotensi menjadi solusi ramah lingkungan dalam meningkatkan ketahanan tanaman melon.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

ECOLAB (Eco Enzyme and Lanzones Anti Rust Bio-Detergent) : Pemanfaatan Eco Enzyme dan Ekstrak Kulit Duku (Lansium domesticum) dalam Pembuatan Bio-deterjen Anti Korosi

Penulis: Novia Najma Tsaqiba, Keysa Aurelia Subekti

Limbah deterjen merupakan salah satu faktor yang menyebabkan pencemaran lingkungan, khususnya di perairan. Deterjen konvensional yang berbahan kimia tidak hanya berpotensi menyebabkan korosi pada logam, tetapi juga mengandung zat-zat yang berbahaya bagi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan bio-deterjen ramah lingkungan dengan memanfaatkan eco enzyme dan ekstrak kulit duku (Lansium domesticum) yang memiliki sifat antibakteri dan anti-korosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik deterjen ECOLAB dan aktivitasnya sebagai anti korosi. Metodologi penelitian meliputi pembuatan eco enzyme melalui proses fermentasi limbah buah dan sayur, ekstraksi kulit duku dengan metode maserasi serta formulasi bio-deterjen cair dengan variasi konsentrasi ekstrak kulit duku F0 (0%), F1(0,5%), F2(1%), F3(2%), F4(5%). Uji yang dilakukan meliputi karakteristik fisik deterjen (uji organoleptik, pH, stabilitas busa, daya pembersihan, viskositas, bobot jenis, dan sedimentasi), uji anti-korosi menggunakan metode penurunan berat, serta uji antibakteri terhadap Staphylococcus aureus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bio-deterjen ECOLAB paling optimum adalah F4 dengan karakteristik berupa sediaan kental berwarna coklat dengan aroma lemon lime, pH sebesar 3, stabilitas busa sebesar 100%, viskositas sebesar 204,0 mPa.s, bobot jenis sebesar 0,951 g/ml, volume sedimentasi sebesar 1,020 ml. Pada pengujian anti korosi pada ECOLAB formula F1 dan F4 menunjukkan perlindungan terbaik terhadap laju korosi dengan kehilangan berat sebesar 0,003 mg dan 0,004 mg lebih rendah dibanding larutan NaCl sebagai kontrol negatif 0,014 mg. Pada pengujian antibakteri terhadap Staphylococcus aureus diperoleh pada formulasi F1 dan F4 memiliki daya hambat paling tinggi yaitu sebesar 0,4 cm. Kata kunci: antibakteri, anti-korosi, bio-deterjen, eco enzyme, kulit duku.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Upaya Peningkatan Intensitas Warna Pada Kulit Ikan Channa Maru (C. Marulioides) Dengan Menggunakan Pelet Berbahan Dasar Wortel

Penulis: Muhammad Firyaal Zidan Nabiil, Izdihar Najmal Ausath Al Husain

Channa Maru (Channa marulioides) merupakan salah satu jenis ikan hias air tawar yang banyak diminati karena keindahan corak dan warna kulitnya. Salah satu permasalahan dalam budidaya ikan hias jenis ini adalah penurunan intensitas warna kulit selama masa pemeliharaan akibat kurangnya sumber karotenoid dalam pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan bubuk wortel (Daucus carota) dalam pelet terhadap peningkatan intensitas warna kulit dan pertumbuhan ikan Channa Maru. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan tiga kelompok perlakuan, yaitu Kontrol (pakan tanpa wortel), Uji 1 (pelet dengan 10% bubuk wortel), dan Uji 2 (pelet dengan 20% bubuk wortel), yang dipelihara selama 8 minggu dengan pemberian pakan dua kali sehari. Intensitas warna diukur menggunakan analisis nilai RGB melalui perangkat lunak ImageJ setiap dua minggu, sedangkan data dianalisis menggunakan uji ANOVA satu arah dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan bubuk wortel berpengaruh signifikan (P<0,05) terhadap peningkatan intensitas warna ikan Channa Maru, dengan kelompok Uji 2 (20%) menghasilkan peningkatan nilai RGB tertinggi sebesar 31,1%, diikuti Uji 1 (10%) sebesar 21,3%, dan Kontrol sebesar 4,3%. Pola yang sama juga terlihat pada parameter pertumbuhan, di mana kelompok Uji 2 mencapai pertumbuhan berat mutlak 9,2 gram dan panjang mutlak 5,1 cm, lebih tinggi dibandingkan Uji 1 dan Kontrol. Tingkat kelangsungan hidup pada seluruh kelompok perlakuan berkisar 90,0–93,3% dan tidak berbeda nyata, menunjukkan bahwa penambahan wortel tidak memberikan dampak negatif terhadap kelangsungan hidup ikan. Dapat disimpulkan bahwa penambahan bubuk wortel dalam pelet, khususnya pada dosis 20%, efektif meningkatkan intensitas warna kulit dan mendukung pertumbuhan ikan Channa Maru, sehingga dapat direkomendasikan sebagai alternatif pakan alami yang ekonomis bagi pembudidaya ikan hias.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Pemanfaatan Tepung Beras Ketan Putih, Limbah Cangkang Telur Ayam, dan Sabut Kelapa Sebagai Bahan Baku dalam Pembuatan Biofoam yang Berdaya Tahan Tinggi dan Ramah Lingkungan

Penulis: Gagah Abyan Mahardika, Isa Bagaskoro

Penggunaan styrofoam sebagai bahan kemasan makanan menimbulkan berbagai permasalahan, baik terhadap kesehatan maupun lingkungan karena sulit terurai. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan tepung beras ketan putih, limbah cangkang telur ayam, dan sabut kelapa sebagai bahan baku pembuatan biofoam yang memiliki daya tahan tinggi serta ramah lingkungan. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan tiga variasi komposisi serbuk cangkang telur ayam dan serbuk sabut kelapa, yaitu 5g: 10g, 10g: g, dan 10g: 10g, sedangkan komposisi bahan lainnya dibuat tetap. Biofoam yang dihasilkan diuji melalui uji kuat tekan (compressive strength), uji kuat tarik (tensile strength), uji daya serap air (immersion test), dan uji biodegradasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi komposisi bahan berpengaruh terhadap sifat mekanik biofoam. Komposisi terbaik diperoleh pada penambahan 10 g serbuk cangkang telur ayam dan 10 g serbuk sabut kelapa, dengan nilai kuat tekan sebesar 1078,7 kPa dan kuat tarik sebesar 343,2 kPa, sehingga memenuhi standar kuat tarik serta memiliki kuat tekan yang lebih tinggi dibandingkan standar foam konvensional. Seluruh variasi biofoam memiliki daya serap air sebesar 30–35%, sehingga masih belum memenuhi standar daya serap air biofoam. Pada uji biodegradasi, biofoam mampu terurai di dalam tanah dalam waktu sekitar 30–40 hari, sehingga menunjukkan sifat ramah lingkungan dan berpotensi menjadi alternatif pengganti styrofoam. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan tepung beras ketan putih, limbah cangkang telur ayam, dan sabut kelapa berpotensi menghasilkan biofoam dengan karakteristik mekanik yang baik serta mudah terurai di lingkungan. Namun, diperlukan pengembangan lebih lanjut untuk menurunkan daya serap air agar kualitas biofoam semakin optimal. Kata kunci: biofoam, styrofoam, tepung beras ketan putih, cangkang telur ayam, sabut kelapa.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Formulasi Permen Gummy Sebagai Alternatif Pengganti Tablet Tambah Darah Berbahan Dasar Jeruk dan Tomat Untuk Pencegahan Anemia Pada Pelajar

Penulis: Kintan Naura, Intan Alif Khoirunnisa

Darah memiliki peran penting dalam tubuh manusia, terutama dalam mengangkut oksigen dan nutrisi ke seluruh jaringan. Namun, masalah kekurangan darah atau anemia masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang cukup tinggi di Indonesia, khususnya pada kalangan pelajar. Anemia pada remaja umumnya disebabkan oleh kurangnya asupan zat besi, pola makan yang tidak seimbang, serta rendahnya konsumsi makanan bergizi. Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai dampak seperti mudah lelah, menurunnya konsentrasi belajar, hingga terganggunya aktivitas sehari-hari. Prevalensi anemia yang tinggi pada remaja jika tidak ditangani dengan baik akan berlanjut hingga dewasa dan berkontribusi besar terhadap angka kematian ibu, bayi lahir prematur, dan bayi dengan berat lahir rendah. Upaya penanggulangan anemia telah dilakukan melalui pemberian tablet tambah darah (TTD), namun masih terdapat kendala seperti rasa yang kurang disukai dan rendahnya kepatuhan konsumsi pada pelajar. Oleh karena itu, diperlukan inovasi alternatif yang lebih menarik dan mudah dikonsumsi, salah satunya dalam bentuk permen gummy berbahan dasar jeruk dan tomat yang mengandung vitamin dan nutrisi pendukung penyerapan zat besi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi permen gummy jeruk dan tomat yang paling disukai serta karakteristik organoleptiknya. Pembuatan gummy dilakukan dengan tiga variasi formula yang dibedakan berdasarkan konsentrasi sari buah jeruk dan tomat. Ketiga formula tersebut kemudian diuji menggunakan uji organoleptik dan uji hedonik terhadap 10 responden. Pengambilan data dilakukan melalui kuesioner berbasis Google Form dengan parameter penilaian meliputi rasa, aroma, warna, tekstur, dan bentuk menggunakan skala ordinal berbasis numerik (rating bintang 1–5). Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk menentukan tingkat kesukaan dan formula yang paling optimal berdasarkan nilai rata-rata tertinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula pertama permen gummy jeruk dan tomat (F1) memiliki tingkat kesukaan tertinggi dibandingkan formula lainnya, terutama pada parameter rasa dan tekstur. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi produk dalam bentuk gummy dapat menjadi alternatif yang lebih disukai oleh pelajar. Konsumsi permen gummy jeruk dan tomat diharapkan dapat membantu meningkatkan minat konsumsi nutrisi yang mendukung pencegahan anemia secara lebih praktis dan menyenangkan. Kata Kunci : Anemia, Gummy, Jeruk, Tomat

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

ReSkin Avo: Formulasi dan Uji Efektivitas Sabun Alami Berbasis Ekstrak Kulit Alpukat (Persea americana Mill.) dengan Penambahan Madu

Penulis: Muwaily Meditaria, Fidila Furaida Ahmadah

Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap penggunaan produk perawatan kulit berbahan alami mendorong pengembangan sabun yang aman, ramah lingkungan, dan memiliki aktivitas antibakteri. Salah satu bahan yang berpotensi dimanfaatkan adalah limbah kulit alpukat (Persea americana Mill.) yang mengandung flavonoid, fenol, dan saponin sebagai senyawa antibakteri. Selain itu, madu mengandung flavonoid, polifenol, hidrogen peroksida, dan berfungsi sebagai humektan alami yang dapat membantu menjaga kelembapan kulit serta meningkatkan aktivitas antibakteri sabun. Namun, pemanfaatan kombinasi kulit alpukat dan madu sebagai bahan aktif sabun alami masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi madu terhadap karakteristik fisik dan aktivitas antibakteri sabun alami berbasis ekstrak kulit alpukat serta menentukan formulasi paling efektif. Penelitian menggunakan metode eksperimen kuantitatif dengan empat konsentrasi madu, yaitu F1 (3 g), F2 (5 g), F3 (7 g), dan F4 (9 g). Ekstrak kulit alpukat diperoleh menggunakan metode infundasi, kemudian sabun dibuat menggunakan metode cold process. Pengujian meliputi uji organoleptik, uji pH, dan uji aktivitas antibakteri dengan metode difusi cakram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi madu menyebabkan warna sabun semakin gelap, aroma madu semakin kuat, tanpa memengaruhi tekstur maupun nilai pH. Seluruh formulasi memiliki pH 8 yang memenuhi persyaratan SNI 3532:2021. Formula 4 menghasilkan aktivitas antibakteri tertinggi dengan diameter zona hambat 13 mm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak kulit alpukat dan madu berpotensi dikembangkan sebagai sabun alami antibakteri yang aman, bernilai tambah, dan ramah lingkungan. Kata kunci : antibakteri, kulit alpukat, madu, sabun alami

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Biodegradable Box sebagai Alternatif Ramah Lingkungan Pengganti Styrofoam dari Limbah Pelepah dan Kulit Pisang Raja

Penulis: Salwa Febriana, Azwa Isna Safrina

Styrofoam merupakan kemasan makanan sekali pakai yang banyak digunakan karena ringan dan praktis, namun memiliki dampak negatif bagi kesehatan dan lingkungan karena mengandung zat berbahaya serta sulit terurai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi limbah pelepah pisang dan kulit pisang raja sebagai bahan dasar pembuatan biodegradable box ramah lingkungan pengganti styrofoam. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen laboratorium dengan tahapan persiapan bahan, pembuatan pulp, pencampuran bahan, pencetakan, pengepresan, pengeringan, serta pengujian sifat fisik material. Variasi komposisi pelepah pisang dan kulit pisang digunakan untuk mengetahui pengaruh kandungan kimia terhadap daya serap air dan biodegradasi produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biodegradable box yang dihasilkan memiliki kandungan selulosa sekitar 45–55% dan lignin sekitar 5–7%. Variasi dengan proporsi pelepah pisang lebih tinggi menghasilkan kekuatan mekanik yang lebih baik, sedangkan variasi dengan kandungan kulit pisang lebih tinggi memiliki tingkat biodegradasi lebih cepat. Nilai daya serap air diperkirakan berada pada kisaran 30–50%, sedangkan tingkat biodegradasi mencapai sekitar 55–60% dalam waktu 8 hari pada variasi tertentu. Berdasarkan analisis keseluruhan, komposisi 60:40 antara pelepah pisang dan kulit pisang raja diduga menjadi komposisi optimum karena memberikan keseimbangan antara kekuatan material, ketahanan terhadap air, dan kemampuan terurai. Dengan demikian, biodegradable box dari limbah pelepah dan kulit pisang raja berpotensi menjadi alternatif pengganti styrofoam yang lebih aman, ramah lingkungan, serta mendukung pemanfaatan limbah organik menjadi produk bernilai guna. Kata kunci: biodegradable box, biodegradasi, kulit pisang raja, pelepah pisang, styrofoam.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail