1196 Hasil Pencarian
PEMANFAATAN EKSTRAK LIMBAH KULIT BAWANG PUTIH (Allium Sativum) SEBAGAI INSEKTISIDA NABATI RAMAH LINGKUNGAN TERHADAP HAMA KUTU DAUN (Aphis gossypii)
Penulis: M Rafif Akmaluzzuhair
Tanaman cabai rawit merupakan komoditas hortikultura penting di Indonesia. Tanaman ini sering terserang hama kutu daun Aphis gossypii, sehingga hasilnya menurun. Penelitian ini dilakukan untuk mencari cara pengendalian yang ramah lingkungan. Peneliti mencoba pestisida nabati dari limbah kulit bawang putih. Penelitian ini menguji pengaruh ekstrak kulit bawang putih terhadap mortalitas Aphis gossypii. Peneliti menentukan konsentrasi yang paling efektif dan menganalisis dampak ekstrak pada intensitas kerusakan daun cabai rawit. Penelitian ini pakai percobaan kuantitatif dengan empat perlakuan: P0 (kontrol negatif), P1 (30 ml ekstrak per liter), P2 (45 ml ekstrak per liter), dan P3 (60 ml ekstrak per liter). Peneliti mengamati pada 24 jam, 48 jam, dan 72 jam setelah aplikasi. Hasilnya, ekstrak limbah kulit bawang putih memengaruhi mortalitas hama dan intensitas kerusakan daun. Perlakuan P3 memberi hasil paling kuat. Mortalitas mencapai 86,67 % dalam 72 jam setelah aplikasi. Rata rata mortalitas berada di 68,89 %. Skor kerusakan daun paling rendah, hanya 0,90. Data ini menandakan bahwa konsentrasi ekstrak naik, mortalitas hama naik, kerusakan daun turun. Oleh karena itu, ekstrak limbah kulit bawang putih dapat dipakai sebagai insektisida nabati ramah lingkungan untuk mengendalikan Aphis gossypii pada tanaman cabai rawit.
Pembuatan Edible Film Berbahan Dasar Tanaman Ganyong (Canna discolor) sebagai Pengemas Jenang
Penulis: Aqila Zahra Dzakiyya, Jacinda Athaya Bahardina
Penggunaan plastik sebagai kemasan pangan yang sulit terurai menimbulkane permasalahan lingkungan, sehingga diperlukan alternatif kemasan yang ramah lingkungan. Salah satu bahan yang berpotensi digunakan adalah pati ganyong (Canna edulis) yang dapat diolah menjadi edible film. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik edible film berbahan dasar pati ganyong serta kemampuannya dalam memperpanjang daya simpan jenang dibandingkan kemasan plastik. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan pembuatan edible film menggunakan pati ganyong, gliserol sebagai plasticizer, dan perasan lemon sebagai bahan tambahan, kemudian dilakukan pengujian meliputi biodegradabilitas, daya serap air, dan keawetan jenang selama 5 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa edible film memiliki sifat biodegradable dengan tingkat penguraian mencapai 85% dalam 8 hari serta memiliki daya serap air sebesar 35% yang menunjukkan sifat hidrofilik. Pada uji keawetan, jenang yang dikemas menggunakan edible film memiliki daya simpan yang relatif mendekati kemasan plastik meskipun mengalami perubahan tekstur lebih cepat. Dengan demikian, edible film dari pati ganyong berpotensi sebagai alternatif kemasan yang ramah lingkungan dan cukup efektif dalam menjaga kualitas produk pangan, sehingga dapat menjadi solusi dalam mengurangi penggunaan plastik. Kata kunci: biodegradable, edible film, jenang, pati ganyong
Pemanfaatan Lidah Buaya (???????? ????????) dan Ekstrak Kulit Manggis (???????????????? ????????????????????) sebagai Antiseptik Pembersih Tangan
Penulis: Fahima Kanza Braveanti, Iskarima Rahmanida
Kebersihan tangan merupakan salah satu upaya penting dalam mencegah penyebaran mikroorganisme patogen. Penggunaan antiseptik pembersih tangan berbahan kimia dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan efek samping, sehingga diperlukan alternatif bahan alami yang lebih aman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan lidah buaya (Aloe vera) dan ekstrak kulit manggis (Garcinia mangostana) sebagai antiseptik pembersih tangan, serta mengkaji tingkat efektivitasnya dalam menghambat pertumbuhan bakteri dan memberikan kelembapan pada kulit. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan formulasi sediaan antiseptik berbasis gel, di mana lidah buaya berfungsi sebagai pelembap alami dan ekstrak kulit manggis dimanfaatkan karena kandungan senyawa aktif seperti xanton yang bersifat antibakteri. Pengujian dilakukan melalui uji daya hambat bakteri menggunakan metode cakram serta pengamatan terhadap tingkat kelembapan kulit setelah penggunaan produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi lidah buaya dan ekstrak kulit manggis memiliki potensi sebagai antiseptik pembersih tangan yang efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri sekaligus memberikan efek melembapkan pada kulit. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan lidah buaya (Aloe vera) dan ekstrak kulit manggis (Garcinia mangostana) berpotensi dikembangkan sebagai alternatif antiseptik pembersih tangan berbahan alami yang efektif dan aman digunakan. Kata kunci: lidah buaya, kulit manggis, antiseptik, antibakteri, pembersih tangan
PENGOPTIMALAN POTENSI AMPAS TEBU DAN DAUN SIRIH SEBAGAI BAHAN SUPER ABSORBENT POLIMER (SAP) PADA POPOK BAYI ANTIBAKTERI
Penulis: Rafie Alfarizy Pratama, Haidar Farid Islahudin
Popok bayi modern biasanya menggunakan super absorben polimer (SAP) sebagai lapisan penyerap utama. Namun material SAP yang umum digunakan saat ini cenderung sintetis, imitasi dan kurang ramah lingkungan. Popok bayi juga bisa menimbulkan ruam pada kulit bayi. Ruam popok merupakan kelainan kulit yang timbul akibat adanya radang di bagian tubuh yang tertutup diaper. World Health Organization (WHO) pada tahun 2012 menyatakan bahwa 25% dari 6.840.507.000 bayi di dunia menderita ruam popok akibat penggunaan popok bayi. Oleh karena itu diperlukan solusi untuk mengatasi masalah limbah popok bayi dengan membuat SAP antibakteri dari limbah ampas tebu dan daun sirih. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi daun sirih (Piper Betle L.) pada super absorben polimer (SAP) terhadap bakteri Staphylococus aureus. Pembuatan SAP diawali dengan isolasi selulosa dari ampas tebu dan dihitung kadar selulosanya. SAP diperoleh dengan cara Iradiasi sinar UV. SAP yang dihasilkan dilakukan uji Spektrum FTIR, uji rasio swelling, uji ketahanan penyimpanan air, dan uji grafting. Pengujian antibakteri dilakukan dengan metode sumuran, dengan cara merendam SAP ke dalam ekstrak daun sirih dengan konsentrasi 0%, 5%, 10%, 20% dan 50%. Dari hasil perhitungan, ampas tebu memiliki kadar selulosa sebesar 50%. Hasil spektrum FTIR menunjukkan adanya gugus -NH2, -CH, dan -C=O pada SAP, karakteristik rasio swelling sebesar 4026%, rasio penyusutan setelah 14 hari, fraksi grafting sebesar 15,77%, dan SAP rendaman larutan daun sirih 50% efektif menghambat pertumbuhan bakteri Staphyloccocus aureus dengan diameter zona hambat sebesar 5,38 mm. Kata Kunci: SAP, popok bayi, ampas tebu, antibakteri, daun sirih
Inovasi (Pelet BUFAI) Pelet Berbasis Eceng Gondok dan Ekstrak Daun Ketapang untuk Optimalisasi Budidaya Ikan Lele Berkelanjutan
Penulis: Rakha Mahadi Aribawa, Faqih Rafiul Majid
Tingginya harga pakan komersial menjadi tantangan besar dalam sektor perikanan Indonesia karena meningkatkan biaya produksi dan menghambat produktivitas budi daya, sehingga berdampak pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Zero Hunger), SDG 12 (Responsible Consumption and Production), dan SDG 14 (Life Below Water). Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan dan menguji efektivitas pakan alternatif berbasis eceng gondok (Eichornia crassipes) yang dikombinasikan dengan ekstrak daun ketapang (Terminalia catappa) sebagai pelet dalam meningkatkan produktivitas ikan lele (Clarias sp..). Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan pendekatan kuantitatif. Eceng gondok diolah sebagai sumber bahan pakan, sedangkan ekstrak daun ketapang ditambahkan untuk memberikan senyawa antibakteri alami yang mendukung kesehatan ikan. Formulasi pakan diuji melalui pengamatan terhadap pertumbuhan, tingkat kelangsungan hidup, dan efisiensi pakan ikan lele. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi eceng gondok dan ekstrak daun ketapang mampu meningkatkan pertumbuhan ikan serta efisiensi pakan dibandingkan pakan konvensional, sekaligus membantu mengurangi limbah perairan. Inovasi ini menunjukkan potensi besar sebagai pakan alternatif yang ekonomis, ramah lingkungan, dan berkelanjutan, sehingga dapat mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) terutama dalam aspek ketahanan pangan dan pengelolaan sumber daya perairan.
Pembalut Biodegradable Berbahan Dasar Daun Pandan dan Cuka Apel sebagai Alternatif Pembalut Wanita yang Sehat dan Ramah Lingkungan
Penulis: Waliyyan Aqna Bih, Fajar Nurul Farichah
Penelitian tentang pembuatan pembalut biodegradable berbahan dasar daun pandan (Pandanus amaryllifolius) dan cuka apel dilatarbelakangi oleh tingginya penggunaan pembalut sekali pakai yang sulit terurai dan berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen laboratorium dengan tiga variasi formulasi bahan. Parameter pengujian meliputi daya serap air, biodegradabilitas, dan uji organoleptik yang mencakup warna, bau, tekstur, serta kenyamanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula 3 memiliki daya serap tertinggi sebesar 10,5%, sedangkan formula 1 memiliki daya serap terendah sebesar 6,7%. Pada uji biodegradabilitas, formula 1 dan 2 mengalami degradasi lebih cepat dibandingkan formula 3 selama 15 hari pengujian di dalam tanah. Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa formula 2 memperoleh tingkat kenyamanan terbaik, sedangkan formula 3 memiliki tekstur paling halus. Berdasarkan hasil tersebut, pembalut biodegradable berbahan daun pandan dan cuka apel berpotensi menjadi alternatif produk sanitasi wanita yang lebih aman dan berkelanjutan, meskipun masih memerlukan pengembangan lebih lanjut terutama pada peningkatan daya serap. Kata kunci: pembalut biodegradable, daun pandan, cuka apel, ramah lingkungan, daya serap
Pengembangan Karbon Aktif dari Tempurung Kelapa (Cocos nucifera L) dan Bentonit sebagai Media Adsorben Gas Emisi Kendaraan Bermotor
Penulis: Almaqvira Ghea Rosyidi, Azalia Manda Kirana
Peningkatan jumlah kendaraan bermotor berkontribusi terhadap meningkatnya emisi gas berbahaya yang berdampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas karbon aktif dari tempurung kelapa (Cocos nucifera L) yang dikombinasikan dengan bentonit sebagai adsorben gas emisi serta menentukan komposisi optimalnya. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan variasi perbandingan karbon aktif dan bentonit, yaitu 75:25, 50:50, dan 25:75. Proses pembuatan karbon aktif meliputi karbonisasi dan aktivasi menggunakan KOH, sedangkan bentonit diaktivasi untuk meningkatkan kemampuan adsorpsinya. Karakterisasi adsorben dilakukan melalui uji kadar air dan kadar abu, serta uji adsorpsi menggunakan simulasi penyaringan asap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi 75% karbon aktif dan 25% bentonit (75:25) memiliki kinerja terbaik dengan kapasitas adsorpsi tertinggi, yang ditunjukkan oleh perubahan berat adsorben sebesar 73 gram dan kondisi media uji yang paling bersih. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kandungan karbon aktif, semakin besar kapasitas adsorpsi terhadap gas emisi. Sebaliknya, peningkatan bentonit tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan daya adsorpsi karena sifatnya yang lebih bersifat hidrofilik dan memiliki luas permukaan lebih kecil dibanding karbon aktif. Penelitian ini membuktikan bahwa limbah tempurung kelapa dan bentonit berpotensi dikembangkan sebagai adsorben ramah lingkungan untuk mengurangi emisi kendaraan bermotor. Namun, karbon aktif tempurung kelapa memiliki peran dominan dalam proses adsorpsi gas emisi, sedangkan bentonit berfungsi sebagai pendukung. Formulasi 75:25 merupakan komposisi paling efektif dan berpotensi dikembangkan sebagai media filtrasi sederhana yang ramah lingkungan. Kata kunci : karbon aktif, tempurung kelapa, bentonit, adsorpsi, gas emisi kendaraan bermotor
Pemanfaatan Kitosan Cangkang Bekicot pada Body Lotion sebagai Pelembap Kulit
Penulis: Raihana Az Zahra Putri Arif, Anif Fathiya Achsan Salsabila
Kulit merupakan bagian badan yang butuh dicermati dalam tata kecantikan. Kerusakan pada kulit akan mengganggu kesehatan manusia sehingga perlu untuk menjaga dan melindungi kesehatan kulit. Salah satu yang menyebabkan kerusakan kulit adalah radikal bebas atau sinar ultra violet. Untuk itu diperlukan antioksidan yang berfungsi untuk menstabilkan radikal bebas. Dari permasalahan tersebut, kami hendak melakukan penelitian dengan dengan memanfaatkan kitosan cangkang bekicot sebagai antioksidan alami yang mampu melembapkan kulit. (Victor M. dkk, 2016) Apabila zat kitin diproses lebih lanjut akan menghasilkan kitosan yang memiliki berbagai manfaat. Dalam rentang waktu tertentu, kami mengamati perubahan kondisi kulit responden setelah menggunakan body lotion ini. Pengujian body lotion kami lakukan pada 7 responden. Pada responden dengan kulit normal, body lotion cukup melembapkan setelah 4 jam pengaplikasian, sedangkan pada responden dengan kulit cenderung kering, body lotion sudah meresap dan harus di re-apply. Dari pengujian tersebut dapat dinyatakan bahwa body lotion dengan ekstrak kitosan cangkang bekicot cukup melembapkan kulit.
Aplikasi Karbon Aktif Berbasis Limbah Kulit Pisang Kepok (Musa paradisiaca) untuk Reduksi Kekeruhan Air Limbah Rumah Tangga
Penulis: Rif'a Maila Tunniswah, Alodia Safira Alkhalisha
Alodia Safira Alkhalisha dan Rif’a Maila Tunniswah dalam penelitian berjudul “Aplikasi Karbon Aktif Berbasis Limbah Kulit Pisang Kepok (Musa paradisiaca) untuk Reduksi Kekeruhan Air” di MAN 2 Kudus yang dibimbing oleh Munirotun Roiyana, S.Si., M.Si., mengkaji pemanfaatan limbah kulit pisang yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dan berpotensi mencemari lingkungan, serta menghubungkannya dengan permasalahan kekeruhan air yang masih sering terjadi dan dapat berdampak pada kesehatan; kulit pisang yang mengandung karbon, selulosa, hemiselulosa, dan lignin diolah menjadi karbon aktif melalui tahapan pencucian, pengeringan, karbonisasi, penghalusan, dan aktivasi sederhana, kemudian diuji dalam proses penjernihan air dengan variasi jumlah penggunaan karbon aktif sebagai berikut, 15 gram selama 1 jam, 15 gram selama 2 jam, 30 gram selama 1 jam, dan 30 gram selama 2 jam. Parameter yang digunakan adalah tingkat kejernihan sebelum dan sesudah perlakuan melalui perubahan warna dan bau. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa variasi terbaik 30 gram dengan waktu kontak 2 jam dengan perubahan warna dari yang semula keruh menjadi cukup jernih dan tidak berbau. Semakin banyak jumlah karbon aktif dan waktu kontak yang digunakan, maka semakin tinggi tingkat kejernihan air. Karbon aktif dari kulit pisang efektif menurunkan kekeruhan air, sehingga bahan ini berpotensi menjadi alternatif penjernih air yang murah, mudah dibuat, dan ramah lingkungan.
Pemanfaatan Kulit Nanas (Ananas comosus) sebagai Bahan Dasar Pembuatan Bio Baterai
Penulis: Falah Abdillah Hakim, Zayyan Nailur Ridho
Pemanfaatan limbah organik sebagai sumber energi terbarukan menjadi salah satu solusi untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil sekaligus meminimalkan dampak pencemaran lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan kulit nanas (Ananas comosus) sebagai bahan dasar pembuatan bio baterai dengan memanfaatkan kandungan senyawa kimia alaminya, seperti asam sitrat, glukosa, dan elektrolit alami yang berpotensi sebagai media penghantar ion. Proses pembuatan diawali dengan pembersihan kulit nanas, penghancuran, dan ekstraksi cairan untuk menghasilkan larutan elektrolit. Larutan ini kemudian diaplikasikan pada sel baterai sederhana yang menggunakan anoda dan katoda berbahan logam. Pengujian kinerja dilakukan dalam dua kondisi, yaitu tanpa beban dan dengan beban berupa LED, untuk mengukur tegangan, arus, serta daya yang dihasilkan. Hasil menunjukkan bahwa bio baterai berbahan kulit nanas mampu menghasilkan tegangan rata-rata 1,5 – 3 Volt per sel. Pada kondisi tanpa beban, tegangan relatif stabil dalam waktu lebih lama, sedangkan pada kondisi dengan beban LED, terjadi penurunan tegangan lebih cepat akibat peningkatan konsumsi energi. Perbedaan ini menunjukkan bahwa beban listrik memengaruhi durabilitas keluaran energi. Temuan ini membuktikan bahwa kulit nanas dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif yang murah, mudah diperoleh, dan ramah lingkungan. Selain memberikan solusi pengelolaan limbah organik, inovasi ini berpotensi dikembangkan sebagai teknologi energi hijau skala kecil, khususnya untuk daerah dengan keterbatasan akses listrik atau kebutuhan daya sementara. Kata kunci: kulit nanas, bio baterai, energi terbarukan, limbah organik, elektrolit alami