1196 Hasil Pencarian
Silase Daun Ketapang: Alternatif Pakan Lokal untuk Peternakan Efisien dan Berkelanjutan
Penulis: Mayla Najmaz Zahiroh, Tabriza Alya Mukhbita
Keterbatasan ketersediaan pakan ternak yang berkualitas mendorong pemanfaatan bahan pakan lokal alternatif seperti daun ketapang (Terminalia catappa). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi pemanfaatan daun ketapang sebagai bahan silase serta menentukan formulasi terbaik dalam pembuatan silase sebagai pakan ternak ruminansia yang efisien dan berkelanjutan. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan empat perlakuan, yaitu PO (100% daun ketapang), P1 (70% daun ketapang + 20% ampas gandum + 10% bekatul), P2 (60% daun ketapang + 25% ampas gandum + 15% bekatul), dan P3 (50% daun ketapang + 30% ampas gandum + 20% bekatul), dengan proses pembuatan silase melalui tahapan pelayuan, pencacahan, pencampuran, pemadatan, dan fermentasi selama 21 hari dalam kondisi anaerob. Parameter yang diamati meliputi nilai pH, karakteristik organoleptik (warna, aroma, tekstur), dan daya simpan silase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai pH silase menurun seiring meningkatnya penambahan ampas gandum dan bekatul, dengan pH terendah pada perlakuan P3 (3,85) dan tertinggi pada P0 (5,10), serta perlakuan P2 dan P3 menghasilkan kualitas silase terbaik yang ditandai dengan warna hijau kecoklatan, aroma asam segar, tekstur padat, tidak berjamur, dan memiliki daya simpan lebih baik hingga hari ke-7 dibandingkan perlakuan lainnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa penambahan ampas gandum dan bekatul mampu meningkatkan kualitas fermentasi, karakteristik fisik, dan daya simpan silase daun ketapang sebagai alternatif pakan lokal yang efisien dan berkelanjutan bagi ternak ruminansia.
Pengaruh Binaural Beats Auditory pada Perkembangan Embrio Telur Ayam dalam Masa Inkubasi Hingga Menetas
Penulis: Gladis Naila Agustin, Syareefa Aisha Bailina
Rendahnya keberhasilan penetasan telur ayam dapat terjadi akibat kerusakan internal embrio karena kontaminasi bakteri serta kondisi inkubasi yang kurang stabil. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh binaural beats auditory terhadap perkembangan embrio telur ayam kampung (Gallus gallus domesticus) menggunakan inkubator kardus sederhana. Penelitian menggunakan tiga kelompok perlakuan, yaitu kontrol, audio 417 Hz, dan binaural beats, masing-masing terdiri atas dua telur fertil. Peneliti memberikan paparan suara selama 2 jam per hari selama 21 hari inkubasi pada suhu 37,5°C. Hasil penelitian menunjukkan seluruh telur gagal menetas dengan daya tetas 0%. Rata-rata susut bobot telur mencapai 28%, sedangkan kelompok binaural beats menghasilkan susut bobot terendah sebesar 22,2%. Hasil candling hari ke-14 memperlihatkan gumpalan gelap tanpa pembuluh darah aktif yang menandakan kematian embrio dini (early embryonic mortality). Ketidakstabilan suhu inkubator, minimnya pembalikan telur, serta kualitas telur pasca-transportasi memengaruhi kegagalan penetasan. Binaural beats menunjukkan potensi positif terhadap kestabilan susut bobot telur, tetapi belum mampu meningkatkan daya tetas secara optimal.
EFEKTIVITAS SALEP KOMBINASI DAUN KEMANGI (Ocimum basilicum L.) DAN MINYAK KELAPA TERHADAP GIGITAN NYAMUK
Penulis: Ayesha Fatta Azwa, Rana Azalia
Gigitan nyamuk dapat menyebabkan reaksi pada kulit berupa rasa gatal dan kemerahan akibat peradangan lokal. Penggunaan obat kimia dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan efek samping sehingga diperlukan alternatif bahan alami yang lebih aman. Daun kemangi (Ocimum basilicum L.) diketahui mengandung senyawa aktif yang bersifat antibakteri dan antiinflamasi, sedangkan minyak kelapa memiliki sifat antiinflamasi dan emolien yang dapat membantu menjaga kelembapan kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas salep kombinasi daun kemangi dan minyak kelapa terhadap gigitan nyamuk serta mengetahui formulasi yang paling efektif. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen sederhana dengan tiga variasi perbandingan formulasi, yaitu 1:1, 1:2, dan 2:1. Salep dibuat menggunakan vaseline album sebagai basis salep dan diuji pada 2 responden dengan 7 kali pengulangan. Parameter yang diamati meliputi tingkat gatal dan kemerahan sebelum dan sesudah penggunaan salep. Data dianalisis secara deskriptif dengan menghitung rata-rata penurunan gatal dan kemerahan pada setiap formulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formulasi salep mampu membantu mengurangi rasa gatal dan kemerahan akibat gigitan nyamuk. Formulasi 2:1 menunjukkan hasil paling efektif dengan rata-rata penurunan gatal sebesar 3 dan kemerahan sebesar 3,14. Dengan demikian, kombinasi daun kemangi dan minyak kelapa berpotensi dimanfaatkan sebagai alternatif bahan alami dalam sediaan topikal untuk membantu meredakan reaksi kulit akibat gigitan nyamuk. Kata kunci: daun kemangi, minyak kelapa, salep topikal, gigitan nyamuk, gatal, kemerahan
Lilin Aromaterapi Ramah Lingkungan Berbasis Ekstrak Peppermint dan Daun Kemangi sebagai Agen Ansiolitik dengan Efek Sensasi Dingin Fisiologis
Penulis: Nayla Isna Firdauzia, Putri Amelina Zahratusita
Kesehatan mental, khususnya manajemen stres dan kecemasan, menjadi perhatian penting dalam kualitas hidup masyarakat modern. Penggunaan pewangi ruangan sintetis sering kali menimbulkan efek samping kesehatan, sehingga diperlukan alternatif alami yang lebih aman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas lilin aromaterapi berbahan ekstrak daun kemangi (Ocimum basilicum) dan peppermint (Mentha piperita) sebagai agen ansiolitik (penurun kecemasan) serta kemampuannya dalam memberikan sensasi dingin fisiologis. Metode penelitian yang digunakan adalah metode campuran (mixed method) dengan desain one group pretest-posttest. Ekstrak kedua bahan diperoleh melalui proses maserasi dengan pelarut etanol 70%. Uji efektivitas dilakukan terhadap tiga variasi formulasi (P1, P2, P3) dengan mengukur tingkat kecemasan dan sensasi termal responden menggunakan kuesioner Visual Analog Scale (VAS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formulasi lilin aromaterapi berdampak pada penurunan tingkat kecemasan serta mampu memberikan efek sejuk dan menyegarkan pada responden. Formulasi P2, yang memiliki komposisi seimbang antara ekstrak kemangi (6,5 ml) dan ekstrak peppermint (6,5 ml), terbukti memberikan hasil paling optimal baik sebagai agen ansiolitik maupun dalam memberikan sensasi dingin yang stabil. Hal ini didukung oleh kandungan senyawa volatil seperti linalool pada kemangi yang memberikan efek relaksasi dan mentol pada peppermint yang merangsang reseptor dingin. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kombinasi ekstrak kemangi dan peppermint dalam lilin aromaterapi efektif sebagai solusi non-farmakologis untuk mengurangi kecemasan dan meningkatkan kenyamanan lingkungan. Kata Kunci: kemangi, peppermint, lilin aromaterapi, ansiolitik
Kawellcup: Edible Cup Berbahan Dasar Alga Merah (Gracilaria verrucosa) dan Ekstrak Buah Kawista (Limonia acidissima) Untuk Menurunkan Kadar Glukosa pada Minuman
Penulis: Sabrina Maulida Kamila Z A, Nurul Afifah Putri
Plastik yang digunakan masyarakat sebagai kantong belanja hingga cup minuman membutuhkan waktu 30 tahun bisa terurai. salah satu solusi adalah pembuatan edible cup. Pembuatan edible cup ini menggunakan alga merah dan kawista sebagai antidiabetes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik edible cup dari alga merah dan mengetahui penurunan kadar glukosa oleh ekstrak kawista yang akan ditambahkan pada edible cup Pembuatan edible cup ini dimulai dengan ekstraksi alga merah dengan KOH 10%, kemudian ekstrak dibuat karagenan dan ditambahkan gliserol dengan formulasi F1 (0,5%), F2 (1%), F3 (2,5%), F4 (5%), dan F5 (7,5%). Edible cup yang dihasilkan, akan di uji kadar air, uji ketebalan, uji daya tarik, uji kebocoran, uji daya serap air. Edible cup kemudian ditambahkan ekstrak buah kawista sebagai antidiabetes. Pengujian ekstrak dilakukan dengan cara mencampurkan ekstrak dengan formulasi 0,2%, 0,4%, 0,6%, 08%, 1% kedalam larutan glukosa. Hasil penelitian menunjukkan formulasi terbaik dalam pembuatan edible cup adalah formula F3 karena menghasilkan edible cup daya tariknya tinggi, ketebalan yang rendah dan daya serap air terkecil. Edible cup formulasi F3 memiliki karakterisitik kadar air sebesar 0,25% ketebalan sebesar 2,49 mm, daya tarik 7,3% daya serap 0,28%. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak kawista yang digunakan, penurunan glukosa semakin besar. Konsentrasi 60 ppm ekstrak kawista menurunkan kadar glukosa sebesar 42%.
STUDI IN SILICO IN VITRO AKTIVITAS ANTIDIABETES BUAH SUKUN (ARTOCARPUS ALTILIS) DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI PASTA DALAM UPAYA PENINGKATAN KETAHANAN PANGAN
Penulis: Fatiha Amalia, Nadine Hardina Fara
Indonesia menempati peringkat 7 dari 10 negara penderita diabetes terbanyak. Diabetes dapat dicegah oleh senyawa flavonoid sebagai antidiabetes. Sukun (Artocarpus altilis) sering dimanfaatkan sebagai obat tradisional dan sumber pangan alternatif masyarakat Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas senyawa antidiabetes ekstrak buah sukun secara in silico dan in vitro. Penelitian secara in silico dilakukan dengan autodock vina dengan lima formulasi tepung sukun dan terigu, yaitu F0 (tepung terigu), F1 (70%:30%), F2 (60%:40%), F3 (50%:50%), dan F4 (30%:70%). Didapatkan 2 senyawa yang memiliki afinitas lebih baik dari ligan alami dari rentang nilai -9 kcal/mol dengan senyawa terbaik artochamin C. Analisis in vitro pada uji fitokimia menunjukkan buah sukun memiliki kandungan alkaloid, flavonid, saponin, dan tanin. Formulasi pasta terbaik adalah F2 dengan nilai daya serap 87,7%, kadar air 52,56%, cooking loss 1,919%, kadar abu 0,7%, dan daya elastis 20 cm serta memiliki nilai kesukaan panelis tertinggi terhadap warna pasta dengan rata-rata 5,54. Nilai mutu sensorik panelis tertinggi terhadap rasa dan tekstur pasta diperoleh dengan perlakuan F2 yaitu memiliki rata-rata 6,01 dan 5,48. Nilai kesukaan yang diberikan panelis terhadap aroma pasta tertinggi diperoleh perlakuan F3 yaitu 5,46. Uji antidiabetes secara in vitro didapatkan nilai EC50 sebesar 132, 80 yang menunjukkan aktivitas inhibisi sedang.
Pupuk Cak Wito : Optimalisasi Pertumbuhan Cabai (Capsicum annuum L.) dengan Pupuk Organik Bokashi, Bakteri PGP, dan Eco Enzyme di Tengah Krisis Kesuburan Tanah untuk Melancarkan SDGs
Penulis: Muhammad Nur Fakih Alfani, Muhammad Maulana Faiz Salman
Krisis kesuburan tanah akibat penggunaan pupuk kimia secara berlebihan menjadi tantangan besar bagi pertanian Indonesia dan menghambat pencapaian tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Zero Hunger) dan SDG 15 (Life on Land). Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan dan menguji efektivitas Pupuk Cak Wito, yaitu pupuk organik hasil kombinasi bokashi, bakteri Plant Growth Promoting (PGP), dan eco enzyme, dalam mengoptimalkan pertumbuhan tanaman cabai (Capsicum annuum L.). Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan pendekatan kuantitatif. Bokashi difermentasi sebagai sumber unsur hara makro, bakteri PGP ditambahkan untuk meningkatkan ketersediaan nutrien dan produksi hormon pertumbuhan, sedangkan eco enzyme digunakan untuk memperkaya enzim dan mikroba bermanfaat yang mendukung kesehatan tanah. Formulasi pupuk diuji melalui analisis pH dan aplikasi pada tanaman cabai untuk menilai pertumbuhan tinggi cabai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pupuk Cak Wito pada F2 mampu memperbaiki kualitas tanah dengan menjaga kestabilan pH pada kisaran 6,5–7,0, yang merupakan kondisi optimal bagi pertumbuhan cabai. Selain itu, penggunaan pupuk ini terbukti meningkatkan pertumbuhan tanaman, ditunjukkan oleh peningkatan tinggi tanaman sebesar ±40– 41% dibandingkan dengan tanaman kontrol. Inovasi ini menunjukkan potensi besar sebagai pupuk organik cair yang efektif, ramah lingkungan, serta mampu memanfaatkan limbah organik, sehingga dapat mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya pada aspek ketahanan pangan dan konservasi lahan pertanian. Kata kunci: Pupuk Cak Wito, bokashi, bakteri PGP, eco enzyme, cabai, kesuburan tanah, SDGs
PENGARUH AZOLLA sp. SEBAGAI FITOREMEDIASI PADA LIMBAH DETERJEN RUMAH TANGGA
Penulis: Ilham Hati Surya Gumilang, Muhammad Kafi Hazim
Limbah deterjen merupakan limbah yang berbahaya karena memiliki kandungan surfaktan, bahan builders (senyawa fosfat), dan bahan aditif (pemutih dan pewangi). Bahan bahan ini dalam konsentrasi yang tinggi dapat mengganggu ekosistem air hingga membunuh biota akuatik. Salah satu cara mengatasi masalah tersebut adalah memanfaatkan kemampuan fitoremediasi. Salah satu tanaman yang bisa melakukan fitoremediasi adalah Azolla sp. Namun, apakah Azolla sp. saja efektif dalam merestorasi lingkungan. Penelitian dilakukan melalui metode eksperimen yang dilakukan dengan mencampur limbah deterjen dan Azolla sp. Dalam penelitian ini, terdapat tiga buah perlakuan yang berbeda. (P1) diberi 100gr, (P2) 150 gr, dan (P3) 200gr. Setiap perlakuan akan di uji dengan parameter pH, TDS, dan warna air. Kemudian dari hasil uji akan dibandingkan untuk menentukan yang mana perlakuan yang paling efektif. Dari eksperimen tersebut didapat kesimpulan Azolla sp. efektif dalam meremediasi air deterjen terutama dalam parameter pH dan warna. Selain itu, Semakin banyak Azolla sp. yang diberikan kedalam limbah deterjen maka pH air semakin netral air. Namun, pada parameter TDS, jika semakin banyak azolla mengalami pembusukan, parameter TDS semakin meningkat. Pada parameter warna, ketiga semple berubah menjadi bening pada hari pertama. Selanjutnya, perubahan yang terjadi dapat diasumsikan akibat banyaknya Azolla sp. Yang mengalami pembusukan. Hal ini, terlihat dari warna Azolla sp. yang mulai mencoklat.
ANALISIS PERTUMBUHAN TANAMAN BAYAM HIJAU (AMARANTHUS HYBRIDUS L.) MENGGUNAKAN CAMPURAN AB MIX DAN POC DARI CAMPURAN KOTORAN GUANO DAN KOTORAN KELELAWAR DENGAN METODE HIDROPONIK
Penulis: Muhammad Rizky Arrafy, Muhammad Aulia Rafi Zaka
Analisis pertumbuhan tanaman bayam hijau (Amaranthus hybridus L) dengan metode hidroponik menggunakan nutrisi AB Mix dan pupuk organik cair (POC) dari kotoran kelelawar. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kebutuhan sayuran sehat serta keterbatasan lahan pertanian di daerah perkotaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh POC kotoran kelelawar, membandingkan efektivitas AB Mix dengan POC, serta menentukan kombinasi terbaik bagi pertumbuhan bayam. Metode yang digunakan adalah eksperimen kuantitatif dengan beberapa variasi perbandingan nutrisi AB Mix dan POC. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, serta panjang dan lebar daun selama empat minggu pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman tanpa nutrisi mengalami pertumbuhan yang sangat lambat dibandingkan perlakuan lainnya. Penggunaan AB Mix secara tunggal memberikan hasil pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan POC secara tunggal. Namun, kombinasi AB Mix dan POC memberikan hasil yang lebih optimal karena adanya sinergi antara nutrisi kimia dan organik. Dengan perlakuan terbaik di 2: 1 untuk POC dan AB mix. Perlakuan 2:1 mengasilkan tinggi tanaman mencapai 24 cm, jumlah daun 10, dan panjang & lebar kurang lebih 9,8 & 7,6 sesuai pada table VII -table IX.
Formulasi Edible Film Berbahan Kulit Buah Naga (???????????????????? ????????????????????) dan Tepung Singkong
Penulis: Lu'lu' Zahira Juair, Lu'lu' Zahira Juair
Penggunaan plastik sekali pakai sebagai kemasan pangan menimbulkan permasalahan lingkungan karena sulit terurai dan berpotensi menghasilkan mikroplastik. Oleh karena itu, diperlukan alternatif kemasan yang lebih ramah lingkungan, salah satunya adalah edible film. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisik serta menentukan formulasi terbaik edible film berbahan kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) dan tepung singkong. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) satu faktor yaitu konsentrasi pektin kulit buah naga yang terdiri atas tiga perlakuan: F1 (1%), F2 (2%), dan F3 (3%), dengan penambahan tepung singkong 1% dan gliserol 1% sebagai plasticizer. Parameter yang diamati meliputi warna, ketebalan, kelenturan, serta kelarutan film dalam air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa edible film yang dihasilkan memiliki warna merah muda dari pigmen betasianin serta bersifat cukup transparan dan fleksibel. Ketebalan film meningkat seiring dengan meningkatnya konsentrasi pektin. Formulasi F1 menghasilkan film dengan ketebalan sekitar 0,08 mm, F2 sekitar 0,10 mm, sedangkan F3 sekitar 0,12 mm. Formulasi F3 menunjukkan karakteristik terbaik dengan struktur film yang lebih kuat dan tidak mudah sobek. Kombinasi kulit buah naga dan tepung singkong berpotensi digunakan sebagai bahan dasar edible film yang bersifat biodegradable dan ramah lingkungan. Pemanfaatan kulit buah naga juga dapat meningkatkan nilai tambah limbah pertanian serta mendukung pengembangan kemasan pangan berkelanjutan. Kata kunci: edible film, kulit buah naga, tepung singkong, pektin, kemasan ramah lingkungan