1196 Hasil Pencarian
Pengaruh Kombucha Batang Pisang Tanduk sebagai Pupuk Organik Cair terhadap Pertumbuhan Tanaman Kangkung Darat (Ipomoea Reptans Poir)
Penulis: Nada Nufaisa Salsabila, Arassy Kirana Sasongko
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk organik cair (POC) limbah batang pisang tanduk (Musa corniculata L.) menggunakan metode fermentasi kombucha terhadap pertumbuhan tanaman kangkung darat (Ipomoea reptans Poir.). Jenis penelitian ini adalah eksperimen kuantitatif yang dilaksanakan di Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus pada bulan Maret–Mei 2026. Metode pengujian menggunakan tiga variasi perlakuan konsentrasi pemupukan harian, yaitu F0 (kontrol tanpa POC), F1 (3 mL POC), dan F2 (5 mL POC) dengan interval pengaplikasian setiap 7 hari selama 14 hari masa pengamatan. Parameter pertumbuhan vegetatif yang diukur meliputi tinggi batang, jumlah daun, dan panjang akar tanaman kangkung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian POC kombucha batang pisang tanduk berpengaruh nyata dalam meningkatkan laju pertumbuhan tanaman. Perlakuan F2 memberikan hasil paling optimal dengan rata-rata pertumbuhan tinggi batang mencapai 29 cm, jumlah daun sebanyak 10 helai, dan panjang akar 12 cm. Keberhasilan pertumbuhan vegetatif ini didukung oleh ketersediaan unsur hara makro (N, P, K) pada batang pisang serta peran aktif SCOBY dalam menguraikan selulosa menjadi senyawa organik yang siap diserap tanaman. Disimpulkan bahwa POC kombucha batang pisang tanduk pada konsentrasi 5 mL (F2) memiliki potensi tinggi sebagai alternatif pupuk cair yang efektif dan ramah lingkungan. Kata Kunci: Batang pisang tanduk, Kangkung darat, Kombucha, Pertumbuhan tanaman, Pupuk organik cair.
Uji Efektivitas Hair Tonic Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.) terhadap Kerontokan Rambut
Penulis: Sheila Rizqia, ‘Aaqilatul ‘Aisyi Yumna
Kerontokan rambut merupakan permasalahan umum di masyarakat yang dapat berkembang menjadi kondisi serius apabila jumlah rambut rontok melebihi batas normal. Salah satu upaya penanganan yang efektif adalah penggunaan hair tonic yang mampu menstimulasi pertumbuhan rambut. Pemanfaatan bahan herbal, khususnya daun jambu biji, telah lama dikenal memiliki kandungan yang bermanfaat untuk kesehatan rambut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas hair tonic ekstrak daun jambu biji dalam mengatasi kerontokan rambut serta menentukan formulasi konsentrasi ekstrak daun jambu biji yang optimal dalam sediaan hair tonic agar efektif mengatasi kerontokan rambut dan tetap aman digunakan. Penelitian ini merupakan eksperimen dengan pendekatan uji laboratorium dan observasi langsung terhadap perubahan yang terjadi pada sampel uji. Ekstraksi bahan dilakukan menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Formulasi hair tonic dibuat dengan dua kombinasi konsentrasi ekstrak, kemudian diuji melalui uji pH, uji perbandingan kerontokan rambut dan uji perbandingan formulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi hair tonic dengan konsentrasi ekstrak daun jambu biji yang lebih tinggi (F2) memiliki pH yang stabil dan menunjukkan efektivitas optimal dalam mengatasi kerontokan rambut. Penelitian ini penting untuk dikembangkan sebagai alternatif dalam mengatasi kerontokan rambut menggunakan bahan alami yang aman dan ramah lingkungan. Hair tonic berbasis ekstrak daun jambu biji berpotensi menjadi alternatif perawatan rambut bebas bahan kimia yang efektif dan ekonomis, serta berkontribusi pada pemanfaatan tanaman herbal secara lebih optimal.
Optimasi Penggunaan Ecoenzyme Kulit Nanas dalam Menghambat Korosi pada Komponen Baja S54C
Penulis: Rasendriya Zufar Kurniawan, Sultan Danish Chrisetya Putra
Rust is the result of the corrosion process in metals, which can reduce the strength, functionality, and service life of the material. An environmentally friendly treatment solution is needed. This study aims to determine the percentage of rust that can be removed by a pineapple peel ecoenzyme solution from corroded S45C steel and to analyze the role of acetic acid content in the dissolution process of iron rust (Fe?O?). The research method employed was a simple experiment involving the production of pineapple peel ecoenzyme through fermentation for approximately 3 months, the formation of rust on S45C steel using a 4% salt solution for 144 hours, followed by rust dissolution testing using 10 mL of ecoenzyme with a 2.65% acetic acid concentration. The results showed that the mass of rust formed ranged from 0.1573 grams to 0.172 grams, while the acetic acid content in the ecoenzyme was stoichiometrically capable of dissolving a maximum of 0.118 grams of rust. Rust removal efficiency was 68.6% for sample 1 and 75.0% for sample 2. The difference is due to the influence of the initial rust mass in each sample. It can be concluded that pineapple peel ecoenzyme has the potential to be used as an environmentally friendly natural rust-removing solution because the acetic acid content in pineapple is capable of dissolving rust through the formation of compounds that are more easily soluble in water. Keywords: ecoenzyme, pineapple peel, corrosion, rust, acetic acid, S45C steel.
MUGURICE (Mugwort-Infused Rice): Pengembangan Beras Analog Berbasis Bahan Lokal Kulit Pisang dan Ubi Ungu sebagai Pangan Fungsional Pendukung Diet Rendah Purin
Penulis: Nathania Putri Tsary Sujarwo, Silvia Fauzia Unsa
Hiperurisemia adalah kondisi medis ketika kadar asam urat dalam darah melebihi 6,8 mg/dL, umumnya timbul akibat konsumsi purin berlebihan. Terapi farmakologis sering dipakai untuk mereduksi tingkat asam urat, namun efek samping terkait ginjal sering muncul. Oleh karena itu, diperlukan alternatif yang lebih aman melalui makanan fungsional. Studi ini mencapai efektivitas efektivitas Mugurice, yaitu beras alternatif yang diperkaya ekstrak daun mugwort (Artemisia vulgaris L.), tepung kulit pisang kepok, dan tepung ubi jalar ungu, dalam menurunkan kadar asam urat pada hewan coba mencit (Mus musculus L.). Ekstrak daun mugwort diketahui memiliki sifat antiradang dan membantu menurunkan konsentrasi asam urat. Tepung kulit pisang kepok kaya serat yang mampu membatasi penyerapan purin di saluran pencernaan, sementara ubi jalar ungu mengandung antosianin berlimpah, suatu antioksidan kuat pelindung tubuh dari kerusakan oksidatif. Penelitian ini menggunakan metode in vivo menggunakan mencit jantan yang dibagi menjadi tiga kelompok: kelompok kontrol, kelompok perlakuan Mugurice dengan variasi konsentrasi ekstrak mugwort, dan kelompok yang hanya diberi ekstrak mugwort. Untuk menaikkan kadar asam urat pada mencit, diterapkan diet kaya purin dengan pemberian jus hati ayam. Hasil studi menunjukkan Mugurice efektif mereduksi kadar asam urat, dengan pencapaian terbaik terlihat pada kelompok P2 yang menerima 90 mL ekstrak mugwort. Analisis fitokimia mengungkap ekstrak mugwort mengandung alkaloid, flavonoid, dan tanin yang berkontribusi dalam penurunan kadar asam urat. Selanjutnya, evaluasi kadar air menunjukkan sampel P2 memiliki tingkat kelembapan terendah sebesar 0,5%, sementara P2.2 menunjukkan tingkat kelembapanTertinggi sebesar 0,8%. Riset ini mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 3 dengan menyediakan opsi pangan alami yang aman untuk mengatasi hiperurisemia tanpa menimbulkan efek samping berarti.
Pemanfaatan Ekstrak Ganyong (Canna edulis Kerr.) dalam Formulasi Masker Wajah: Potensi Antioksidan dalam Mengatasi Peradangan pada Kulit Wajah
Penulis: Zahraa Aqiila El Firdaus, Safina Zahra Endriani
Peradangan pada kulit wajah dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti paparan radikal bebas, polusi, perubahan hormon, dan penggunaan produk yang tidak cocok. Salah satu bahan alami yang berpotensi dimanfaatkan untuk membantu mengurangi peradangan pada kulit wajah adalah umbi ganyong (Canna edulis Kerr.) karena mengandung senyawa antioksidan seperti flavonoid dan alkaloid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi masker wajah peel off dari ekstrak umbi ganyong, mengetahui proses ekstraksi yang digunakan, serta mengetahui potensi ekstrak ganyong sebagai sumber antioksidan alami. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen kuantitatif. Proses penelitian dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu preparasi sampel, ekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol, uji fitokimia, formulasi masker peel off, serta uji karakteristik sediaan meliputi uji organoleptik, uji pH, uji daya sebar, uji waktu kering, dan uji stabilitas. Formula masker dibuat dalam tiga variasi konsentrasi ekstrak ganyong, yaitu F1, F2, dan F3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak ganyong memiliki warna coklat tua, aroma khas ganyong, dan tekstur kental. Hasil uji fitokimia menunjukkan adanya kandungan flavonoid dan alkaloid pada ekstrak ganyong. Hasil formulasi masker menunjukkan bahwa formula F2 menghasilkan karakteristik yang paling baik karena memiliki tekstur yang stabil dan mudah diaplikasikan pada kulit wajah. Hasil uji pH menunjukkan nilai sekitar 5–6 sehingga masih sesuai dengan pH kulit wajah. Selain itu, hasil uji daya sebar dan waktu kering menunjukkan bahwa masker dapat digunakan dengan cukup baik sebagai sediaan peel off. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa ekstrak umbi ganyong berpotensi digunakan sebagai bahan alami dalam pembuatan masker wajah peel off untuk membantu merawat kulit wajah yang mengalami peradangan.
PENGARUH PUPUK DOLOMIT DAN KOMPOS CANGKANG TELUR TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN CABAI (Capsicum annuum L.)
Penulis: Hafiz Jausyaq Fauzi Santoso, Rajendra Rafif Rizqullah
Tanaman cabai (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Namun, produktivitas cabai masih sering terkendala oleh kondisi tanah yang kurang subur serta ketergantungan petani terhadap pupuk kimia sintetis yang berdampak negatif pada ekosistem tanah dalam jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi pupuk dolomit dan pupuk kompos dari limbah cangkang telur terhadap pertumbuhan tanaman cabai, serta menentukan dosis kombinasi yang paling efektif. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen kuantitatif dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial yang terdiri dari 4 variasi perlakuan, yaitu kontrol (tanpa pupuk), pemberian pupuk dolomit saja, pemberian pupuk kompos cangkang telur saja, dan kombinasi keduanya dengan variasi dosis (Dosis 1: 100 gr dolomit + 200 gr kompos; Dosis 2: 150 gr dolomit + 250 gr kompos; Dosis 3: 200 gr dolomit + 300 gr kompos). Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Olimpiade Sains Terpadu MAN 2 Kudus selama kurang lebih empat bulan. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, bobot basah, bobot kering, serta pH tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi pupuk dolomit dan pupuk kompos dari cangkang telur memberikan pengaruh positif terhadap seluruh parameter pertumbuhan tanaman cabai yang diamati. Pupuk dolomit berperan dalam menetralkan pH tanah dan meningkatkan ketersediaan unsur hara kalsium (Ca) dan magnesium (Mg), sementara pupuk kompos cangkang telur memperbaiki struktur fisik tanah, meningkatkan aktivitas mikroba, dan menyuplai unsur hara organik secara bertahap. Kombinasi terbaik diperoleh pada dosis D2 (150 gr dolomit + 250 gr kompos) yang menghasilkan rata-rata tinggi tanaman 52,3 cm, jumlah daun 36 helai, dan bobot basah 94,7 gr.
Auditoria: Pengembangan Platform Marketplace Musik Terintegrasi Berbasis Web dalam Pengembangan Pembelajaran, Produksi, dan Penyewaan Layanan Musik di Indonesia
Penulis: Muhammad Bima Isyna Mubaraka, Muhammad Rifqi Fawwaznajib
Industri musik di Indonesia menunjukkan perkembangan yang signifikan, namun ekosistem layanan musik yang ada saat ini masih bersifat terfragmentasi. Masyarakat, khususnya generasi muda, harus mengakses berbagai platform yang berbeda hanya untuk memenuhi kebutuhan seperti belajar musik, memproduksi karya, dan menyewa alat musik. Kondisi ini menimbulkan ketidakefisienan serta menurunkan kepercayaan pengguna terhadap kualitas layanan yang tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Auditoria, sebuah platform marketplace musik terintegrasi berbasis web yang menyatukan layanan kursus musik, jasa pembuatan lagu, dan penyewaan alat musik dalam satu sistem terpadu, serta mengimplementasikannya guna meningkatkan kemudahan akses, kenyamanan, dan kepercayaan pengguna dalam memanfaatkan layanan musik secara digital. Metode pengembangan yang digunakan adalah ADDIE yang terdiri dari tahap Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner kepada responden dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum, serta didukung oleh studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden menilai platform layanan musik digital terpadu sebagai kebutuhan yang relevan. Fitur yang paling diminati meliputi kursus musik, komunitas forum diskusi, dan jasa pembuatan lagu. Responden juga menginginkan fleksibilitas akses melalui website maupun aplikasi dengan kisaran harga yang terjangkau. Implementasi Auditoria menggunakan JavaScript dengan Visual Studio Code menunjukkan bahwa seluruh fitur utama telah berfungsi dengan baik, meskipun masih diperlukan pengembangan pada tampilan antarmuka dan fitur interaktif. Dengan demikian, Auditoria berpotensi menjadi solusi digital yang efektif dalam mendukung pengembangan ekosistem industri musik kreatif di Indonesia. Kata kunci: marketplace musik, platform terintegrasi, layanan musik digital, pengembangan web, ADDIE
PEMANFAATAN KULIT RAMBUTAN (_Naphelium lappaceum L._) SEBAGAI SURFAKTAN ALAMI PADA DETERGEN RAMAH LINGKUNGAN
Penulis: Muhamad Arya Sadewa, Muhammad Alfi Mubarok
Penumpukan limbah kulit rambutan (Nephelium lappaceum L.) menjadi salah satu permasalahan lingkungan yang belum dimanfaatkan secara optimal, sementara penggunaan detergen sintetis berbahan kimia terus meningkat dan berpotensi mencemari lingkungan perairan. Kulit rambutan diketahui mengandung senyawa saponin yang memiliki sifat surfaktan alami sehingga berpotensi digunakan sebagai bahan dasar detergen ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan ekstrak kulit rambutan sebagai bahan aktif detergen cair alami serta menganalisis pengaruh variasi konsentrasi ekstrak terhadap karakteristik fisis dan kimiawi detergen yang dihasilkan. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen laboratorium dengan tiga variasi konsentrasi ekstrak kulit rambutan, yaitu Variasi 1 (5 gram), Variasi 2 (10 gram), dan Variasi 3 (15 gram). Parameter pengujian meliputi uji organoleptik, derajat keasaman (pH), tinggi dan stabilitas busa, serta daya bersih terhadap noda pada kain katun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi ekstrak kulit rambutan berpengaruh terhadap kualitas detergen cair yang dihasilkan. Variasi 3 (15 gram) menghasilkan karakteristik paling optimal dengan warna cokelat pekat homogen, aroma khas kulit rambutan, nilai pH sebesar 9 yang memenuhi standar SNI 4075-1:2017, stabilitas busa sebesar 95%, serta efektivitas daya bersih mencapai 90%. Kandungan saponin dalam ekstrak kulit rambutan terbukti mampu berfungsi sebagai surfaktan alami yang efektif dalam menurunkan tegangan permukaan dan mengangkat kotoran dari serat kain. Berdasarkan hasil penelitian, ekstrak kulit rambutan berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku detergen yang efektif, ekonomis, dan ramah lingkungan yang sejalan dengan prinsip Green Chemistry. Kata Kunci: Detergen Alami, Kulit Rambutan, Limbah Organik, Saponin, Sifat Fisika-Kimia, SNI 4075-1:2017.
HYBRID KOMPOSIT SERAT SERABUT KELAPA DAN SERAT KARBON UNTUK KOMPONEN KENDARAAN BERMOTOR
Penulis: Diyas Maulana, Mochammad Abrar Athallarahman
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas komposit hibrida berbasis serat sabut kelapa dan serat karbon dengan matriks resin epoksi sebagai material komponen aerodinamis pada kendaraan bermotor. Metode yang digunakan adalah eksperimen kuantitatif dengan pembuatan spesimen melalui teknik hand lay-up dan vacuum bagging dengan variasi komposisi F1 (30% serat karbon), F2 (20% serat karbon dan 10% sabut kelapa), dan F3 (10% serat karbon dan 20% sabut kelapa). Pengujian meliputi uji densitas, ketahanan panas, dan uji impak untuk mengevaluasi sifat fisik dan mekanik material. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spesimen F1 memiliki performa terbaik dengan densitas 1,153 g/cm³, stabilitas termal yang baik tanpa kerusakan pada suhu tinggi, serta kemampuan menyerap energi benturan yang tinggi. Spesimen F2 menunjukkan performa sedang, sedangkan F3 memiliki performa terendah akibat dominasi serat sabut kelapa yang menurunkan kekuatan mekanik dan ketahanan panas. Secara keseluruhan, serat karbon berperan dalam meningkatkan kekuatan, densitas, dan stabilitas termal, sementara sabut kelapa memberikan keunggulan dari aspek keberlanjutan dan ramah lingkungan, namun perlu dikontrol proporsinya. Komposit hibrida ini berpotensi menjadi material alternatif yang ringan, kuat, dan efisien untuk aplikasi otomotif, khususnya pada komponen aerodinamis kendaraan bermotor.
FORMULASI SEDIAAN SERUM BERBAHAN KULIT ARI KEDELAI (Glycine max L.) DAN UJI ANTIOKSIDAN SERTA ANTIBAKTERINYA TERHADAP Propionibacterium acnes, Staphylococcus epidermidis, DAN Staphylococcus aureus
Penulis: Dzakiyyah Fairuz Husna, Milliyya Jazila
Jerawat atau Acne vulgaris merupakan penyakit kulit yang kemunculannya sering dikaitkan dengan keberadaan bakteri seperti Propionibacterium acnes, Staphylococcus epidermidis, dan Staphylococcus aureus. Salah satu limbah dalam proses pengolahan kedelai yaitu kulit ari kedelai. Dalam penelitian ini, telah dilakukan ekstraksi disertai dengan karakterisasi ekstrak. Metode yang digunakan untuk ekstraksi adalah maserasi, karakterisasi yang dilakukan dalam penelitian ini dimulai dari uji fitokimia, uji KLT, dan uji LC-MS/MS. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi sumuran dan cakram terhadap bakteri Propionibacterium acnes, Staphylococcus epidermidis, dan Staphylococcus aureus. Dilakukan juga uji antioksidan menggunakan metode DPPH. Sementara itu, pembuatan formulasi serum dilakukan dengan metode pengadukan biasa. Hasil formulasi serum selanjutnya dievaluasi dengan uji organoleptik, pH, stabilitas fisik, uji daya sebar, uji viskositas, dan AKK. Hasil dari penelitian ini diketahui senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada ekstrak kulit ari kedelai adalah alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, steroid, dan triterpenoid. Ekstrak kulit ari kedelai diketahui memiliki sifat antibakteri paling kuat pada konsentrasi ekstrak 10% terhadap bakteri Propionibacterium acnes, setelah itu Staphylococcus aureus, dan terakhir Staphylococcus epidermidis. Hasil uji antioksidan menunjukkan nilai IC50 adalah 9.14 ppm dan ekstrak kulit ari kedelai tergolong memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat. Hasil evaluasi formulasi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa formulasi 2 merupakan sediaan paling baik berdasarkan uji homogenitas, daya sebar, viskositas, AKK, dan angka lempeng total.