1196 Hasil Pencarian

Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Kulit Jeruk Bali (Citrus grandis) sebagai Green Inhibitor terhadap Laju Korosi Baja S45C

Penulis: Regan Mahya Arkananta Fathan, Meizagian Rafangga Dwinanta Hidayat

Korosi merupakan reaksi antara logam dengan lingkungan di sekitarnya yang mengakibatkan mutu dari logam mengalami penurunan. Salah satu cara untuk menghambat terjadinya korosi pada logam adalah dengan cara membuat permukaan logam tersebut terlindungi oleh suatu inhibitor sehingga tidak terjadi kontak langsung antara logam dengan media korosif. Baja S45C termasuk baja karbon sedang yang banyak digunakan pada komponen mekanik, namun memiliki ketahanan korosi yang relatif rendah. Salah satu metode untuk menghambat korosi adalah penggunaan inhibitor alami (green inhibitor) yang ramah lingkungan. Spesimen baja S45C berukuran 2 × 2 × 1 cm direndam selama 72 jam pada suhu 40°C dalam media air laut dan larutan NaCl 10% dengan variasi konsentrasi inhibitor 0%, 25%, dan 75%. Ekstrak kulit jeruk bali diperoleh menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ekstrak kulit jeruk bali mampu menurunkan laju korosi baja S45C. Ekstrak kulit buah jeruk bali terbukti efektif menurunkan laju korosi baja S45C pada kedua media korosif yang diuji. Pada media air laut, laju korosi awal sebesar 96,86 mpy berhasil ditekan hingga mendekati 0 mpy pada konsentrasi inhibitor 75% dengan efisiensi inhibisi mencapai 100%. Hasil serupa diperoleh pada media NaCl 10% yang lebih agresif, di mana laju korosi awal sebesar 164,67 mpy juga berhasil direduksi hingga mendekati 0 mpy pada konsentrasi yang sama. Pada kedua media, peningkatan konsentrasi inhibitor secara konsisten berbanding lurus dengan peningkatan efisiensi inhibisi. Hal ini disebabkan oleh senyawa tanin dalam ekstrak kulit jeruk bali yang teradsorpsi pada permukaan baja, membentuk lapisan pelindung yang menghambat reaksi oksidasi anodik. Kata kunci: baja S45C, green inhibitor, kulit jeruk bali, korosi, laju korosi.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Pemanfaatan Pektin Limbah Kulit Buah Melon sebagai Edible Coating dalam Upaya Meningkatkan Kualitas dan Masa Simpan Buah Tomat

Penulis: Sheryl Zanitra Azzahra, Hyacintha Zada

Tomat merupakan komoditas hortikultura yang memiliki kadar air tinggi sehingga mudah mengalami penurunan kualitas dan pembusukan selama penyimpanan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memperpanjang masa simpan tomat adalah melalui penerapan edible coating. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemanfaatan pektin limbah kulit buah melon sebagai edible coating dalam meningkatkan kualitas dan masa simpan buah tomat serta menentukan konsentrasi pektin yang paling efektif. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan, yaitu kontrol tanpa pektin (F0) serta edible coating pektin kulit melon berkonsentrasi 1% (F1), 2% (F2), dan 3% (F3). Pektin diekstraksi menggunakan asam sitrat, kemudian diformulasikan menjadi larutan edible coating dan diaplikasikan pada buah tomat dengan metode pencelupan (dipping). Pengamatan dilakukan selama tujuh hari pada suhu ruang menggunakan parameter susut bobot dan umur simpan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh perlakuan mengalami peningkatan susut bobot selama penyimpanan, namun perlakuan F1 memberikan hasil terbaik dengan susut bobot terendah sebesar 11,54% pada hari ke-7 dibandingkan F0 (19,23%), F2 (19,35%), dan F3 (18,18%). Selain itu, perlakuan F1 mampu mempertahankan mutu tomat hingga hari ke-7, sedangkan kontrol hanya bertahan hingga hari ke-5. Dengan demikian, pemanfaatan pektin limbah kulit buah melon sebagai edible coating terbukti efektif dalam mempertahankan kualitas dan memperpanjang masa simpan buah tomat, dengan konsentrasi pektin 1% sebagai perlakuan yang paling efektif.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Permen Fungsional Antifungi dari Buah Parijoto dan Daun Cincau Hijau Untuk Sariawan

Penulis: Ayu Cetta, Huwayda Syifa Ayesha Utomo

Sariawan merupakan suatu inflamasi pada jaringan lunak di dalam oral yang lazim terjadi. Faktor penyebab sariawan, antara lain jamur, alergi makanan, kurang vitamin, stress ataupun tergigit. Jamur Candida albicans merupakan salah satu jamur penyebab terjadinya sariawan. Efek dari sariawan dapat menyebabkan para penderitanya tidak nafsu makan dan mulut terasa perih. Kebanyakan obat sariawan mengandung bahan berbahaya seperti policresulen dan steroid yang memiliki efek samping jika dibandingkan dengan bahan alam. Tanaman parijoto (Medinilla speciosa) merupakan salah satu tanaman yang banyak tumbuh di Kecamatan Dawe, Kota Kudus. Buah parijoto mengandung senyawa flavonoid, saponin, tannin, terpenoid, dan glikosida yang mempunyai aktivitas farmakologi, seperti antibakteri, antiinflamasi dan antifungi. Parijoto juga mengandung vitamin C yang dapat mempercepat proses penyembuhan sariawan. Tanaman cincau hijau (Cyclea barbata Miers) adalah tanaman yang banyak tumbuh di Indonesia dan dapat dimanfaatkan sebagai makanan tradisional kaya serat. Kandungan kimia aktif dalam daun cincau hijau berupa karbohidrat, alkaloid, polifenol, saponin, dan flavonoid yang memiliki aktivitas farmakologi sebagai antiinflamasi, antioksidan, dan antifungi. Salah satu bentuk pengaplikasian dari obat sariawan adalah medicated hard candy. Medicated hard candy yang mengandung buah parijoto dan daun cincau hijau merupakan inovasi dalam penelitian ini. Hard candy ini juga menjadi pengobatan yang lebih mudah diterima masyarakat dalam pengonsumsian obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas buah parijoto dan daun cincau hijau dalam bentuk medicated hard candy sebagai antiinflamasi dan antifungi untuk sariawan. Penelitian ini diawali dengan pembuatan ekstrak parijoto dan daun cincau hijau, kemudian dilakukan uji fitokimia untuk mengetahui senyawa metabolik dalam bahan alami tersebut. Pembuatan hard candy dilakukan menggunakan variasi buah parijoto dan daun cincau hijau (0%:10%), (10%:20%), (30%:30%), (20%:10%), dan (10%:0%). Selanjutnya dilakukan uji organoleptik, uji pH, dan uji kadar air. Aktivitas antifungi dilakukan dengan uji daya hambat untuk menghitung zona bening yang terbentuk. Formulasi hard candy terbaik diperoleh dengan perbandingan konsentrasi ekstrak parijoto dan daun cincau hijau (30%:30%). Dengan daya hambat sebesar 1,5 cm, memiliki nilai pH 5, nilai kadar air sebesar 0,15%, dan pada uji hedonik responden menyukai hard candy yang telah dibuat dengan nilai rata-rata paling kecil 3,4 dari skala 6. Kata kunci : Antifungi, daun cincau hijau, hard candy, parijoto, sariawan.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Strategi Pengembangan Sumber Daya Genetik Pertanian Melalui Induksi Mutagen Etil Metan Sulfonat (EMS) Dan Bio-Catharanthine Pada Tanaman Okra Merah (Abelmoschus esculentus L. Moench) Secara In Vitro Menuju Sustainable Development Goals (SDGs 2) 2030

Penulis: Naila Kirania Maulidia, Dzikra Lubna Khairunnisa

Sumber Daya Genetik (SDG) memiliki peran dalam menunjang kedaulatan pangan, kecukupan nutrisi, dan memperkuat persaingan dalam pasar global. Ancaman kelestarian SDG pertanian telah menjadi wacana global yang membangun kesadaran pentingnya melakukan konservasi dalam mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs 2), keamanan pangan (zero hunger), dan pertanian berkelanjutan. Upaya memperoleh varietas unggul dalam konservasi SDG dapat dilakukan melalui pemuliaan tanaman menggunakan mutagen seperti Bio-Catharantine dan Etil Metan Sulfonat (EMS) untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian. Okra Merah (Abelmoschus esculentus L. Moench.) merupakan salah satu jenis sayuran fungsional dengan komoditas ekspor yang mengandung alkaloid, fenolik, tanin, saponin, flavonoid, memiliki aktivitas antioksidan serta dapat menurunkan kolesterol. Tujuan penelitian ini yaitu meningkatkan produktivitas dan kemampuan anti kolesterol tanaman Okra Merah (Abelmoschus esculentus L.) menggunakan induksi mutagen EMS dan bioatharantine secara in vitro. Variasi konsentrasi EMS dan Bio-Catharanthine yang digunakan yaitu 0,5%, 1%, 1,5%, dan 2% dengan lama perendaman 24 jam. Parameter yang diamati yaitu morfologi, produktivitas, jumlah kromosom dan kemampuan anti kolesterol setelah 12 minggu setelah tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mutagen EMS dan Bio-Catharanthine tidak menyebabkan kenaikan jumlah kromosom, namun dapat meningkatkan morfologi, produktivitas, dan kemampuan anti kolesterol tanaman Okra merah. Penurunan kolesterol tertinggi sebesar 63,57% pada B1, sedangkan nilai penurunan kadar kolesterol terendah sebesar 20,66% pada B4. Konsentrasi EMS dan Bio-Catharanthine yang optimal untuk pertumbuhan tanaman okra merah 1,5%.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Pembuatan Permen Karet Ekstrak Stroberi (Fragia Ananassa) Sebagai Pencegahan terhadap Karies

Penulis: Anggraeni Dewi Setyowati, Diva Azmi Salsabila

Karies gigi merupakan salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut yang disebabkan oleh aktivitas bakteri Karies Gigi dan bakteri Streptococcus mutans. Salah satu upaya pencegahan karies dapat dilakukan melalui penggunaan bahan alami yang memiliki aktivitas antibakteri, seperti buah stroberi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas permen karet ekstrak stroberi dalam menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans serta menentukan formulasi permen karet terbaik berdasarkan karakteristik organoleptik. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen kuantitatif dengan variasi konsentrasi ekstrak stroberi sebesar 15gram, 25gram, 50gram, dan 80gram. Ekstraksi dilakukan menggunakan metode homogenisasi dengan blender, kemudian filtrat stroberi digunakan dalam formulasi permen karet yang terdiri atas gula halus, xanthan gum, sirup jagung, gliserin, dan asam sitrat. Pengujian dilakukan melalui uji organoleptik dan uji antibakteri menggunakan media Nutrient Agar (NA) terhadap bakteri Streptococcus mutans. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh perlakuan permen karet ekstrak stroberi mampu menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans dibandingkan kontrol. Jumlah koloni bakteri pada kontrol sebanyak 28 koloni, sedangkan pada perlakuan P1 sebanyak 6 koloni, P2 sebanyak 4 koloni, P3 sebanyak 3 koloni, dan P4 sebanyak 1 koloni. Perlakuan P4 dengan penambahan ekstrak stroberi 80gram menunjukkan aktivitas antibakteri terbaik karena mampu menekan jumlah koloni bakteri paling rendah. Sementara itu, hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa formulasi terbaik terdapat pada perlakuan P3 dengan penambahan ekstrak stroberi 50gram karena memiliki warna, aroma, rasa, dan tekstur yang paling disukai panelis. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa permen karet ekstrak stroberi berpotensi digunakan sebagai alternatif produk perawatan gigi dan mulut karena memiliki aktivitas antibakteri terhadap Streptococcus mutans serta karakteristik organoleptik yang baik.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

PEMANFAATAN SERBUK KULIT PISANG RAJA (Musa paradisiaca L.) DAN SERBUK ECENG GONDOK (Eichhornia crassipes) DALAM PEMBUATAN BIODEGRADABLE FOAM (BIOFOAM)

Penulis: Keyla Hasya Ananta, Dinda Elok Allamah

Penggunaan styrofoam sebagai bahan kemasan sekali pakai menimbulkan berbagai permasalah lingkungan karena sulit terurai secara alami. Oleh karena itu, diperlukan kemasan alternatif yang lebih ramah lingkungan, salah satunya adalah dengan membuat biodegradable foam (biofoam) dari bahan limbah organik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik biofoam yang terbuat dari serbuk kulit pisang raja (Musa paradisiaca L.) dan serbuk eceng gondok (Eichhornia crassipes), menentukan konsentrasi optimal kedua bahan tersebut terhadap kualitas biofoam, serta menilai hasil pengujian biofoam yang dihasilkan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen kuantitatif. Biofoam dibuat melalui proses pencampuran bahan, pemanasan, pencetakan, dan pengeringan. Selanjutnya, biofoam diuji menggunakan uji biodegradabilitas dan uji daya serap air. Penelitian ini menggunakan tiga variasi perlakuan perbandingan serbuk kulit pisang raja dan serbuk eceng gondok, yaitu 1:3, 3:1, dan 1:1. Hasil uji daya serap air menunjukkan nilai sebesar 100%, 50%, dan 0% pada perlakuan 1, 2, dan 3. Adapun hasil uji biodegradabilitas menunjukkan persentase kehilangan massa masing-masing sebesar 33,33%, 50%, dan 60%. Perlakuan 3 menunjukkan hasil terbaik dengan daya serap air terendah dan tingkat biodegradabilitas tertinggi. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan serbuk kulit pisang raja dan serbuk eceng gondok berpotensi menghasilkan biofoam yang ramah lingkungan dan dapat digunakan sebagai alternatif pengganti styrofoam. Kata kunci: Biodegradabilitas, Biofoam, Daya Serap Air, Serbuk Eceng Gondok, Serbuk Kulit Pisang Raja

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Inovasi Pembuatan Kampas Rem Ramah Lingkungan dari Eceng Gondok (Eichornia Crassipes) dan Limbah Pecahan Kaca dengan Matriks Resin Epoxy

Penulis: Bima Putra Argantari, Bre Arka Tabian Mochtar

Indonesia adalah salah satu negara di Asia dengan tingkat penggunaan sepeda motor yang tinggi. Data kecelakaan lalu lintas pada tahun 2014, menunjukkan bahwa 72% kecelakaan lalu lintas di jalan raya melibatkan sepeda motor. Komponen yang sering berpengaruh pada kecelakaan adalah kegagalan dalam pengereman. Komponen utama dalam sistem ini adalah kampas rem. Kampas rem umumnya terbuat dari bahan asbes, tetapi penggunaannya memiliki dampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik kampas rem dari enceng gondok dan limbah kaca dengan matriks resin epoxy. Komposit dibuat dengan variasi perbandingan serat eceng gondok dan serbuk kaca dalam total fraksi pengisi 30% sedangkan resin epoksi digunakan sebanyak 70%. Formulasi yang digunakan ada 5 formula dengan perbandingan enceng gondok : kaca sebesar F1 (30%:0%), F2 (20%:10%), F3 (10%:20%), F4 (15%:15%), F5 (0%:30%). Kampas rem yang telah terbentuk dilakukan pengujian uji densitas, ketahanan panas, karakterisasi mikrostruktur, uji keausan dan ketangguhan impak. Hasil kampas rem yang telah terbentuk dilakukan pengujian sifat fisis kampas rem yaitu uji densitas, ketahanan panas, dan karakterisasi mikrostruktur. Sedangkan sifat mekanik kampas rem dilakukan uji keausan dan ketangguhan impak. Hasil Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi terbaik diperoleh pada formula F1 yang memiliki karakteristik densitas sebesar 1,153 g/cm³, uji keausan sebesar 0.0087mm³/kg·m, dan uji impak sebesar 0,02 kJ/m². Selain itu, hasil uji ketahanan panas menunjukkan bahwa sampel F1 tetap stabil pada suhu 360°C selama satu jam, hanya mengalami perubahan warna setelah pemanasan

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Formulasi Lilin Aromaterapi dengan Kulit Jeruk (Citrus sp.) dan Minyak Atsiri Kayu Putih (Melaleuca cajuputi) sebagai Alternatif Alami dalam Mengurangi Tingkat Stres pada Remaja

Penulis: Fairuz Rizka Amanda, Aisha Nurul Azkiya

Stres merupakan salah satu masalah yang sering dialami oleh remaja dan dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik maupun psikologis. Salah satu alternatif alami yang dapat dilakukan untuk mencegah stres yaitu melalui penggunaan aromaterapi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan formulasi dan karakteristik lilin aromaterapi berbahan kulit jeruk dan minyak atsiri kayu putih yang efektif dalam membantu menurunkan tingkat stress pada remaja. Penelitian menggunakan variasi formulasi perbandingan minyak aromatic kulit jeruk dan minyak atsiri kayu putih, yaitu F0 (0%:0%), F1(100%:0%), F2(75%:25%), F3(50%:50%), F4(25%:75%), F5(0%:100%), dengan pengujian organoleptik, uji hedonik dan uji waktu bakar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi F3 (50%:50%) merupakan formulasi yang paling disukai oleh responden karena menghasilkan aroma yang seimbang, sementara karakteristik tekstur dan warna pada seluruh formulasi cenderung homogen serta memiliki waktu bakar yang relatif sama yaitu 4 jam.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Kajian Flavonoid Ekstrak Daun Mugwort (Artemisia vulgaris L.) dan Aktivitasnya pada Model Hiperurisemia melalui Matriks Pangan Beras Analog

Penulis: Tasya Amellia Rahmadhani, Aini Zukiya Putri

Hiperurisemia merupakan kondisi meningkatnya kadar asam urat dalam serum melebihi batas normal akibat aktivitas berlebih enzim xantin oksidase dalam metabolisme purin. Penanganan farmakologis konvensional sering menimbulkan efek samping jangka panjang sehingga diperlukan alternatif berbasis bahan alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kandungan flavonoid ekstrak daun mugwort (Artemisia vulgaris L.) dan aktivitasnya sebagai antihiperurisemia melalui matriks pangan beras analog yang selanjutnya disebut Mugurice (Mugwort-Infused Rice). Metode yang digunakan meliputi studi pustaka dan eksperimen, dengan pengujian in vivo menggunakan 7 ekor mencit jantan (Mus musculus L.) yang dibagi menjadi tiga kelompok: P0 (kontrol tanpa perlakuan), P1 (diberi Mugurice), dan P2 (diberi ekstrak mugwort langsung). Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak daun mugwort positif mengandung flavonoid, alkaloid, dan tanin. Uji kadar air Mugurice menunjukkan nilai 0,50–0,60%, memenuhi standar SNI 6128-2015 di bawah 14%. Hasil uji in vivo menunjukkan bahwa kelompok P1 mengalami penurunan rata-rata kadar asam urat dari 43,97 mg/dL menjadi 6,6 mg/dL, sedangkan kelompok P2 mengalami penurunan dari 121 mg/dL menjadi 5,0 mg/dL. Flavonoid yang terkandung dalam ekstrak mugwort berperan sebagai inhibitor xantin oksidase melalui interaksi gugus hidroksil pada C-5 dan C-7 dengan situs aktif enzim. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Mugurice efektif menghantarkan flavonoid mugwort sebagai agen antihiperurisemia tanpa merusak aktivitas biologisnya secara signifikan. Kata kunci: flavonoid, ekstrak mugwort, beras analog, hiperurisemia

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Studi In Silico Antibakteri Ekstrak Daun Belimbing Wuluh terhadap Bakteri Treponema pallidum

Penulis: Mirza Faiz Ikhsani, Rizqie Shidqie Narendra

Sifilis merupakan penyakit menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum dan masih menjadi masalah kesehatan global. Pengobatan utama menggunakan antibiotik penisilin memiliki beberapa keterbatasan, sehingga diperlukan alternatif terapi yang lebih aman dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi antibakteri senyawa aktif daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) terhadap Treponema pallidum melalui pendekatan in silico. Metode yang digunakan adalah Computer-Aided Drug Design (CADD) dengan teknik molecular docking, serta didukung oleh analisis farmakokinetik menggunakan SwissADME dan prediksi toksisitas menggunakan ProTox. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari beberapa senyawa yang diuji, senyawa 2-(1-Phenylethyl) phenol memiliki nilai afinitas ikatan paling rendah sebesar -7,3 kkal/mol, mendekati nilai native ligand sebesar -8,0 kkal/mol. Selain itu, senyawa ini memenuhi aturan Lipinski dan memiliki tingkat toksisitas yang relatif aman. Hasil visualisasi molecular docking menunjukkan adanya interaksi stabil antara senyawa tersebut dengan protein target, ditandai dengan terbentuknya ikatan hidrogen pada residu ASN A:98 serta kesamaan interaksi dengan native ligand pada residu VAL A:105, LEU A:101, dan ALA A:162. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa senyawa 2-(1-Phenylethyl) phenol dari daun belimbing wuluh berpotensi sebagai kandidat antibakteri terhadap Treponema pallidum. Namun, diperlukan penelitian lanjutan melalui uji in vitro dan in vivo untuk mengonfirmasi efektivitas dan keamanannya secara langsung. Kata kunci: sifilis, Treponema pallidum, belimbing wuluh, in silico, molecular docking, antibakteri

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail